Toleran Jiwa Muda dalam Keberagaman Budaya

oleh Almira Gusti Iqma

Sejak dini, kita diajarkan atas penerimaan terhadap perbedaan yang ada. Indahnya toleransi jika kita menghormati dan menghargai satu sama lain akan tercipta. Terutama harus menggunakan keIndonesiaan untuk mengenal, untuk melunturkan sekat. Adanya sikap saling menghormati keragaman yang menjadi fitrah bangsa ini untuk kemudian bersama-sama menjaga kedamaian serta kerukunan. Toleransi umat beragama adalah keniscayaan bagi bangsa ini, karena secara fitrah kita dilahirkan dalam rahim multikulturalisme. Artinya, kita tidak boleh gagap melihat diri sendiri. Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan umat manusia secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Konteks saling mengenal inilah kita diajarkan untuk saling menghormati, mengerti, dan mengedepankan prasangka baik. Menjaga toleransi adalah tugas elemen bangsa, utamanya umat beragama. Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat yang menganut agama lain dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan baik untuk beribadah maupun tidak beribadah dari satu pihak ke pihak lain. Adapun manfaat toleransi yaitu, dapat terhindar dari adanya perpecahan antar umat beragama. Kita hidup di Indonesia dimana semua umat beragama ada di dalamnya. Landasan negara kita adalah Pancasila dimana didalamnya terdapat sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam konteks Indonesia, corak masyarakat Indonesia yang “Bhineka Tunggal Ika” bukan lagi hanya berkutat pada keanekaragaman suku bangsa, melainkan keanekaragaman yang ada pada kebudayaan masyarakat Indonesia. 

Begitupun dengan masyarakat multikultural, masyarakat multikultural memiliki kelompok yang berbeda-beda, baik secara politik maupun ekonomi. Tidak dapat dipungkiri jika kelompok ada yang mendominasi politik yang kemudian akan memaksakan kebijakan politiknya agar mendapatkan keuntungan untuk kelompoknya sendiri. Contoh masyarakat multikultural yang saya ketahui di Indonesia ini terdapat di kota kelahiran saya, yaitu kota Palembang. Palembang mempunyai berbagai macam suku dan budaya yang ada di masyarakatnya. Ada etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab, dan lain-lain. Setiap etnis tentunya mempunyai kelompoknya sendiri-sendiri baik berupa tempat tinggal, organisasi, maupun perkumpulannya sendiri. Misalnya sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, yang bermukim di dan dinamakan Kampung Arab. Sebagian besar penduduk di Kampung Arab adalah orang-orang yang berasal dari Arab dan menetap di Palembang. Kampung Arab yang berada di Palembang terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir maupun yang di bagian Ulu. Penduduk di Kampung Arab datang jauh-jauh ke Palembang hanya untuk menyebarkan Agama Islam, yang mereka bawa hanyalah Kitab dan Nisan. Kitab artinya ajaran-ajaran Agama Islam yang harus disebarkan. Nisan artinya tanda makam jika mereka meninggal di daerah rantauan. Sehingga, bentuk-bentuk rumah mereka cenderung mengikuti bentuk-bentuk rumah yang ada di Palembang, seperti rumah panggung dan rumah limas yang di modernkan yang mana saat ini sedang berkembang.

Multikulturalisme ini kemudian menjadi ideologi yang mengakui serta menghargai tentang arti sebuah perbedaan baik individual maupun kebudayaan. Dari kondisi masyarakat yang berada di Kampung Arab ini, bisa didapatkan cerminan mengenai pembelajaran dari bagaimana sebuah contoh masyarakat multikultural yang seharusnya. Hal ini dikarenakan masyarakat Kampung Arab memiliki toleransi tinggi terhadap masyarakat asli Palembang. Masyarakat multikultural ini harus dipahami dan memaknai konteks masa kini dan masa depan yang harus terus ditanamkan. Faktor penyebab multikultural di Indonesia merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak bahwa negara Indonesia terdiri atas berbagai kelompok etnis, budaya, agama, dan lain-lain. Oleh karena itu, bangsa Indonesia disebut sebagai masyarakat multikultural yang unik dan rumit. Pada dasarnya terdapat banyak faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multikutural. Salah satunya yaitu, faktor sejarah Indonesia. Di mata dunia, Indonesia adalah negeri yang kaya dan subur. Segala sesuatu yang diperlukan bangsa tumbuh di Indonesia. Misalnya, palawija dan rempah-rempah. 

Oleh karena itu, Indonesia menjadi negeri incaran bagi bangsa lain. Indonesia telah dikunjungi oleh bangsa-bangsa lain yaitu Portugis, Belanda, Inggris, Cina, India, dan Arab. Kesemua bangsa tersebut datang dengan maksud dan tujuan masing-masing. Oleh karena itu, mereka tinggal dan menetap dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini menjadikan Indonesia memiliki struktur ras dan budaya yang semakin beragam. Masyarakat multikultural harus dihargai potensi dan haknya untuk mengembangkan diri sebagai pendukung kebudayaannya di atas tanah kelahiran leluhurnya. Namun pada saat yang sama, mereka juga harus tetap diberi ruang dan kesempatan untuk melihat dirinya, serta dilihat oleh masyarakat lainnya yang sama-sama merupakan warga negara Indonesia, sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dengan demikian, mereka telah membangun dirinya maupun membangun leluhurnya untuk bersama-sama mewujudkan ikatan kebersamaan dan saling bekerja sama.

DAFTAR PUSTAKA

Kompas.com. (2011, 07 19). Tanamkan Toleransi Sejak Dini. Retrieved from Internasional Kompas.com: https://internasional.kompas.com/read/2011/07/19/02255828/Tanamkan.Toleransi.sejak.Dini

Prisili, L. (2017). Melatih Toleransi Sejak Dini. Retrieved from UtakAtikOtak: https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/4358/Melatih-Toleransi-Sejak-Dini

Zaini. (2010). PENGUATAN PENDIDIKAN TOLERANSI SEJAK USIA DINI. Media Neliti, 1-11.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *