Self Injury pada Remaja?

Oleh: Syifa Mariyana Ulfa

Self-Injury (Klonsky & Jenifer, 2007) adalah prilaku dimana seseorang sengaja melukai tubuhnya sendiri bukan bertujuan untuk bunuh diri melainkan hanya untuk melampiaskan emosi-emosi yang menyakitkan. DSM-V menjelaskan bahwa seseorang dikatakan pelaku self-injury jika: (1) Seseorang telah terlibat self-injury selama dua belas bulan terakhir, setidaknya dilakukan pada lima hari yang berbeda (2) Self-injury bukan merupakan hal yang sepele (misalnya menggigit kuku), dan tidak merupakan bagian dari sebuah praktek yang diterima secara sosial (misalnya menindik atau tato). Menurut Knigge (1999: 1) prevelensi bentuk-bentuk self-injury yang dilakukan oleh pelakunya yaitu pemotongan 72%, pembakaran 35%, memukul 30%, menjambak rambut 10%), mengganggu penyembuhan luka (22%), mematahkan tulang (8%). Beberapa metode, termasuk dua atau lebih di atas (78%). 

Self-injury dilakukan hampir di setiap rentang usia, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Pada anak-anak dan remaja diperoleh tingkat prevalensi antara 1.5-5.6% (Albores-Gallo dkk, 2014), pada remaja yaitu 49.2% (Manca, Presaghi, &Cerutti; 2014), sementara pada dewasa awal yaitu 37% (Gratz KL, Dixon-Gordon KL, Chapman AL, &Tull MT., 2015). Paling banyak melakukan self-injury ada di usia remaja dan dewasa awal, dengan tingkat prevalensi 36.9-50% (Glenn & Klonsky, 2013). Usia kemunculan self-injury diketahui berada di usia awal remaja, (Glenn & Klonsky, 2009; Klonsky 2011) menyebut 13 atau 14 tahun merupakan onset (pertama kali) seseorang melakukan self-injury. Hurlock (1980) menjelaskan bahwa masa remaja adalah masa perubahan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan masa dewasa adalah puncak kematangan seseorang dalam hidupnya. Dalam menjalani masa transisi ini pasti akan ada konflik yang terjadi, baik konflik internal (konflik dalam dirinya) maupun konflik eksternal (konflik yang berasal dari luar). Konflik-konflik ini menyebabkan seseorang menjadi tertekan secara emosional sehingga menimbulkan perasaan yang tidak nyaman pada dirinya (Walsh, 2006). 

Pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan dengan orang terdekat, misalnya keluarga, khususnya interaksi yang buruk dengan ibu sangat berhubungan dengan kemunculan self-injury (Pierro, Sarno, Perego, Gallucci, & Madeddu, 2012). Beatens et al., 2015; Glassman, Weierich, Hooley, Deliberto, & Nock, 2007; Nock, 2010, menyebutkan bahwa pengabaian, penganiayaan, penolakan, kritikan berlebih, kurangnya dukungan emosional, menyebabkan seseorang mengembangkan gaya berpikir kritis “berlebihan” terhadap diri. Gaya berpikir kritis berlebihan kepada diri dikatakan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam self-injury. Selain menimbulkan kemarahan dan kebencian yang mendalam terhadap diri, kritik berlebihan juga menyebabkan individu selalu meragukan kemampuannya, tidak ada penghargaan atas diri, dan sangat mudah merasakan perasaan bersalah atas apa saja yang dilakukannya. Penelitian oleh (Glenn & Klosky, 2009) menunjukkan bahwa sekali seseorang terlibat dalam self-injury, besar kemungkinan ia akan mengulangi perilakunya tersebut, bahkan dengan intensitas yang semakin meningkat setiap waktunya.

Pelaku self-Injury melakukan tindakan menyakiti diri sendiri secara sengaja karena maksud untuk mengurangi ketegangan dan merasa lebih tenang yang ia rasakan dari perasaan yang tidak nyaman yang diperoleh dari rasa penolakan yang ia rasakan. Perasaan tenang tersebut hanya bersifat sementara karena pada dasarnya tindakan ini tidak menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya terjadi pada dirinya (Hit & Cha, 2006). Self-Injury merupakan mekanisme coping yang digunakan seseorang secara individu untuk mengatasi rasa sakitnya secara emosional atau menghilangkan rasa kekosongan secara kronis dalam diri dengan memberikan sensasi pada diri sendiri. Self-Injury sendiri merupakan mekanisme coping yang tidak baik namun banyak orang yang melakukan karena memang mekanisme tersebut menjadi cara yang efektif bekerja dan bahkan bisa menyebabkan kecanduan (Alderman, 1997). Mereka yang terlibat dalam self-injury memiliki alasan yang kompleks dan kadangkala sulit dimengerti sebagian orang, sehingga orang yang melakukan self-injury terlihat seperti orang yang aneh atau orang gila karena melukai dirinya secara sadar (Mounty, 2005). Meskipun tidak seluruhnya, kebanyakan pelaku self-injury mengalami penyiksaan di masa lalunya, baik secara fisik, emosional, maupun seksual, sehingga pada umumnya kurang mampu mengendalikan emosinya dan cenderung menghadapi banyak masalah di kemudian hari (Conterio, dalam Mounty, 2005).

Salah satu penanganan yang dapat diambil adalah melakukan intervensi psikologis dengan pendekatan transpersonal. Pendekatan transpersonal dianggap sebagai pendekatan yang paling komprehensif. Assagioli (dalam Rueffler, 1995) menyebutkan dalam pendekatan transpersonal terdapat dua tujuan terapi, yaitu tujuan personal untuk memperkuat perkembangan kepribadian dengan melibatkan semua proses mental di dalamnya baik itu pikiran, perasaan, dan perilaku untuk menuju selaras dan optimal. Sedangkan tujuan transpersonal lebih dalam lagi, yaitu menawarkan kemungkinan untuk mewujudkan diri yang sejati, menyangkut keterhubungan manusia dengan Sang Pencipta. Salah satu intervensi psikologis dengan pendekatan psikologi transpersonal adalah metode Empathic Love Therapy (ELT). Metode ELT merupakan metode cinta dalam psikosintesis untuk mendamaikan seluruh aspek dalam diri, mengubah pola diri yang bersifat membatasi atau merusak diri, dan menemukan diri sejati yang utuh dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Metode  disusun berdasarkan 7 konsep Assagioli (2007); 1) Disidentification, 2) Personal self or I, 3) Will  – Good,  Strong, Skillful,  4) The  Ideal  Model,  5) Synthesis,  6) The Superconscious or Higher Unconscious, dan 7) Transpersonal Self or Self. Rangkaian proses  atau tahapan perubahan  diri dalam ELT untuk menurunkan  pikiran dan perilaku self-injury dimulai dari mengenali elemen dalam diri, baik yang mendukung maupun  menghambat. Selanjutnya yaitu menerima segala elemen dalam diri. Selanjutnya koordinasi yaitu mulai menyadari kualitas tersembunyi dari elemen yang dianggap  mengganggu atau menghambat. Selanjutnya integrasi, yaitu mulai menyadari nilai dan aspirasi. Terakhir adalah sintesis, yaitu penyatuan dengan diri yang utuh (diri otentik). 

Penelitian ELT sudah pernah dilakukan di Indonesia, beberapa diantaranya yaitu ELT diberikan kepada individu dengan permasalahan depresi (Saragih, 2014; Sagala, 2015; Widiasari, 2015), dan ELT diberikan kepada individu dengan permasalahan kecemasan (Tittarini, 2014; Yana, 2015). Beberapa penelitan pun menunjukkan hubungan yang erat antara depresi dan kecemasan dengan self-injury (Klonsky, 2007, 2009; Laye-Gindhu & Schoner-Reichl, 2005; Marshall, Weaver, & Stattin, 2013). Penelitian Tri Permatasari1 & Budi Andayani juga menunjukkan bahwa Empathic Love therapy dapat menurunkan pikiran dan perilaku self-injury. Rangkaian proses dalam ELT membawa perubahan yang positif dan menyumbang terhadap penurunan pikiran dan perilaku self-injury. ELT membawa pengaruh yang paling besar pada partisipan yang memiliki kemauan, kematangan, dan kesiapan yang tinggi dalam proses terapi.

References

Kurniawaty, R. (2012, Oktober). Dinamika Psikologis Pelaku Self-Injury (Studi Kasus pada Wanita Dewasa Awal). Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, 1(1).

Maidah, D. (2013). Self-Injury pada Mahasiswa (Studi Kasus pada Mahasiswa Pelaku Self-Injury). Developmental and Clinical Psychology, 2(1).

Permatasari, T., & Andayani, B. (n.d.). Empathic Love Therapy untuk Menurunkan Pikiran dan Perilaku Self-Injury. GADJAH MADA JOURNAL OF PROFESSIONAL PSYCHOLOGY, 2(3), 173-185.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *