oleh: Dyah Ayu Putri

Adanya pandemi Covid-19 yang belum juga usai membuat sejumlah aktivitas harus dilakukan dengan cara online. Work from Home telah menjadi makanan sehari-hari. Salah satu negara yang memprioritaskan aktivitas melalui daring yaitu Indonesia. Sebelumnya, Indonesia sempat menjadi jajaran negara yang terpapar Covid-19 tertinggi di dunia. Dalam 24 jam terakhir pada 14-15 Juli 2021 tercatat bahwa jumlah pasien terinfeksi Covid-19 mencapai 56.757 orang (Mashabi 2021). Ini merupakan rekor Covid-19 tertinggi bagi Indonesia sejak terdampaknya Indonesia pada 20 Maret 2020. Tidak hanya itu, pada pekan kedua Agustus 2021 Indonesia menjadi negara dengan jumlah kematian tertinggi meskipun tren mengalami penurunan.

Keresahan masyarakat akan adanya pandemi ini menuntut pemerintah agar segera memberikan solusi yang efektif. Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh pemerintah, seperti penutupan akses penerbangan, social distancing, PSBB, hingga PPKM yang berlangsung hingga saat ini. Tidak dipungkiri bahwa kebijakan-kebijakan ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Beberapa di antaranya justru pesimis dengan kebijakan yang dipilih pemerintah.  Hal ini mempengaruhi interaksi sosial, budaya, dan juga pendidikan termasuk di Indonesia.

Sejak adanya pandemi membuat interkasi antarmasyarakat semakin terbatas. Masyarakat dianjurkan untuk melakukan aktivitas di rumah daripada datang ke tempat yang dituju. Dalam hal ini perubahan yang terjadi ditunjukkan seperti kecenderungan masyarakat dalam menggunakan gawai. Rapat, kelas, pekerjaan, kebanyakan dilakukan secara daring. Interaksi sosial baru ini memaksa masyarakat untuk beradaptasi dan berdamai dengan keadaan. Salah satu bentuk interaksi dilakukan dengan aktif dalam penggunaan sosial media. Tidak dapat dipungkir bahwa sosial media juga menjadi sarana informasi dan juga bentuk lain dalam mengerjakan tugas sekolah. 

Sebut saja Instagram, WhatsApp, Tiktok, dan YouTube menjadi aplikasi langganan. Tidak hanya para pelajar atau mahasiswa yang memanfaatkan aplikasi tersebut. Dari sektor perekonomian sendiri, sosial media juga digunakan sebagai bentuk strategi pemasaran suatu produk. Para artis maupun influencer ramai-ramai menggunakan sosial media dalam rangka endorsement. Tentu hal ini akan menguntungkan kedua belah pihak, apalagi jika produk ramai di pasaran. Sosial media juga digunakan sebagai ajang diskusi para remaja masa kini dalam membahas sebuah isu yang sedang trending di dunia maya.  

Terkait dengan sistem kelas yang dilakukan secara daring nyatanya juga menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Salah satu wali murid di Surabaya setuju untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka meskipun secara terbatas. Pita Sari menjelaskan bahwa pembelajaran secara daring tidak efektif dan juga menyebabkan learning loss (Widiyana 2021). Akibatnya sang adik ketinggalan pelajaran dan kurang memahami penjelasan yang dijelaskan secara daring. Pengalaman pribadi penulis sendiri juga menyetujui hal tersebut. Hal ini dikarenakan tugas-tugas yang diberikan secara daring tidak sebanding dengan penyampaian materi yang disampaikan oleh guru. Beberapa di antaranya justru mengarahkan murid untuk meninjau materi yang disampaikan di YouTube dengan pengajar yang berbeda. Memang situasi yang serba salah, kalaupun guru mengajar langsung melalui Google Meet atau Zoom juga kurang efektif. Bisa jadi karena orangtua yang kurang memahami pertemuan daring menyebabkan ruangan menjadi bising. Akhirnya guru juga tidak bisa menyampaikan materinya secara maksimal. Selain itu, penugasan online tidak menjamin para pelajar mengerjakan tugasnya secara mandiri.

Menyikapi hal tersebut memang terlihat berbagai resiko yang diakibatkan dengan adanya pembelajaran daring.  Selain faktor pendidikan secara langsung, faktor koneksi dan jaringan provider juga sangat penting guna menunjang kegiatan daring. Seperti yang terjadi pada awal-awal pembelajaran daring dimana terjadi kesenjangan yang begitu terlihat. Harus diakui bahwa tidak seluruh wilayah di Indonesia terjangkau koneksi internet. Oleh karena itu, bagi sejumlah wilayah khususnya di wilayah 3T akan menjadi kendala tersendiri. Hal ini disetujui oleh Sumandi selaku Sekretaris Desa Marmoyo yang menjelaskan bahwa jaringan internet di wilayahnya merupakan suatu hal yang langka (Syafi’i and Belarminus 2020). Belum lagi jika tugas daring dirasa memberatkan seperti mengunggak video yang kreatif di sosial media. Sayangnya, tidak semua orang memiliki keahlian dalam melakukannya. 

Bergeser ke aspek sosial dan budaya. Setelah adanya pandemi ini, aktivitas masyarakat yang dilakukan secara bersama-sama nyaris tidak ada. Kegiatan rutin seperti pengajian, tahlilan, peringatan Maulid Nabi, dan sejumlah pemeragaan budaya lainnya menjadi terhenti. Kalaupun dilaksanakan secara daring, belum tentu masyarakat semangat mengikutinya seperti biasanya. Pasti rasanya juga akan berbeda. Di wilayah pedesaan misalnya, ketika ibu-ibu saling membantu untuk menghidangkan makanan dan suguhan lainnya. Setelah pandemi, adanya kecenderungan untuk memesan makanan atau catering secara online. Dari sini terlihat bahwa terjadi pergesaran pola interaksi masyarakat menjadi lebih terbatas setelah adanya pandemi. 

Kesimpulannya, pandemi Covid-19 telah mengubah pola interaksi di lingkungan masyarakat. Protes dan keluhan pasti ada. Namun, sebagai masyarakat sudah sepatutnya untuk tetap bersikap baik dan melestarikan kebudayaan yang ada. Masyarakat yang sebelumnya terbuka dan gotong royong mejadi lebih privat. Belum lagi jika ada berita hoax yang mudah memancing emosi masyarakat. Masyarakat menjadi gelisah dan menurunnya tingkat kepercayaan kepada pemerintah. Meskipun membutuhkan waktu satu tahun lebih, tren positif ditunjukkan Indonesia setelah mengalami penurunan jumlah pasien Covid-19. Sabar adalah kunci utama, namun bergerak produktif adalah sebuah kewajiban.

Daftar Pustaka:

Mashabi, Sania. 2021. “Kasus Covid-19 Harian Catatkan Rekor Baru, Bertambah 56.757 Dalam Sehari.” Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2021/07/15/16174171/kasus-covid-19-harian-catatkan-rekor-baru-bertambah-56757-dalam-sehari (September 16, 2021).

Syafi’i, Mohammad, and Robertus Belarminus. 2020. “Mengintip Cara Anak SD Di Desa ‘Miskin Jaringan Internet’ Saat Pembelajaran Daring Halaman All – Kompas.Com.” Kompas.com. https://regional.kompas.com/read/2020/07/22/18124311/mengintip-cara-anak-sd-di-desa-miskin-jaringan-internet-saat-pembelajaran?page=all (September 16, 2021).

Widiyana, Esti. 2021. “Pro Kontra Wali Murid Di Surabaya Jelang Pembelajaran Tatap Muka.” Detik.com. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5706730/pro-kontra-wali-murid-di-surabaya-jelang-pembelajaran-tatap-muka (September 16, 2021).

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *