Oleh : Adis Rahma Fitriani 

Teknologi merupakan salah satu kata yang sudah tidak asing didengar oleh telinga manusia. Pada zaman sekarang perkembangan teknologi sudah semakin pesat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Berbagai informasi yang terjadi di belahan dunia dengan mudah dapat diakses pada era sekarang. Berbeda dengan kehidupan manusia pada zaman dahulu, dimana kehidupannya bisa dibilang masih sederhana belum adanya penggunaan teknologi, contohnya dalam komunikasi pada zaman dahulu masyarakat berbalas pesan menggunakan surat, dan memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya. Sedangkan, pada zaman sekarang dengan adanya teknologi dapat memudahkan dalam berkirim pesan, serta tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan balasan, serta dengan adanya teknologi seakan tanpa adanya jarak dalam berkomunikasi. Selain itu, perkembangan teknologi terlihat dalam bidang industri, di mana dalam produksi pada zaman sekarang sudah menggunakan teknologi. Sedangkan, pada zaman dahulu kegiatan produksi masih dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia dan juga menggunakan alat-alat sederhana. Terdapat pepatah pada zaman dahulu bahwa “dunia tak selebar daun kelor” (Wahyudi & Sukmasari, 2014). Namun, sekarang pepatah itu seakan terpatahkan dengan kenyataan bahwa dunia ini selebar daun kelor, karena cepatnya akses informasi dari belahan dunia yang membuat dunia ini seolah semakin sempit. 

Perkembangan teknologi ini terjadi karena adanya peristiwa revolusi industri. Revolusi industri terjadi pada akhir abad 18 yang di mana modernisme mempengaruhi kehidupan masyarakat di Eropa dan juga merupakan cikal bakal munculnya modernisme awal (Sofiana, 2014). Revolusi industri ini disebut sebagai tonggak awal dari perubahan kehidupan manusia di bidang industrialisasi. Dimana pada masa revolusi industri terjadi perubahan sosial dan ekonomi dunia di negara-negara Eropa khususnya Inggris dengan penciptaan mesin-mesin dan peralatan yang dapat menggantikan tenaga manusia. Sehingga, dapat memproduksi barang secara cepat dan masal. Revolusi industri yang terjadi di Eropa pada pertengahan abad ke-18 tersebut banyak melahirkan perubahan pada dunia dan kehidupan manusia, yaitu perubahan pada pola kehidupan dan tatanan sosial pada masyarakat barat (Sofiana, 2014). Pada revolusi industri produksinya dilakukan secara luas dengan menggunakan tenaga mesin. Namun, perubahan tersebut membuat tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin. Perubahan terhadap industri tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran terhadap nilai dan budaya, serta memunculkan kelas-kelas pekerja dalam masyarakat. Sehingga, dengan hal tersebut menumbuhkan konsumerisme terhadap aneka barang hasil industri. Namun, dengan adanya revolusi industri ini membawa dampak terhadap kehidupan manusia, di mana semua kegiatan industri yang awalnya menggunakan tenaga manusia sekarang digantikan dengan tenaga mesin, yang mana itu memberikan peluang yang sedikit untuk manusia bisa bekerja, atau bisa menjadi pengangguran. Sehingga, dari penjelasan tersebut karena adanya pengaruh revolusi industri ini menyebabkan kemajuan di bidang teknologi.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga terjadi di Indonesia, dan bahkan berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi di Indonesia yang meningkat sangat pesat yaitu teknologi informasi dari hari ke hari. Teknologi informasi berkembang semakin meningkat dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari perluasan area cakupan internet, peningkatan bandwidth internet, penggunaan teknologi internet dan komunikasi terbaru yang lebih cepat dan efisien, kemudian berkembangnya ponsel pintar, serta munculnya berbagai macam media sosial, dan semakin banyaknya masyarakat yang paham dan aktif menggunakan internet (Nidaul Khasanah et al., 2020). Sekitar 4,3 milyar total penduduk di Indonesia 56% atau 2,42 milyar di antaranya sudah mendapatkan akses internet, dan separuhnya sekitar 2,14 milyar penduduk telah menggunakan yang namanya sosial media (Nidaul Khasanah et al., 2020). Media sosial ini merupakan sebuah media online yang penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan sebuah blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual (Cahyono, 2016). 

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2017) mengatakan bahwa pertumbuhan pengguna Indonesia dari tahun ke tahun semakin mengalami peningkatan. Tahun 2017 merupakan tahun dengan jumlah pengguna internet tertinggi, yaitu sebanyak 143,26 juta jiwa dari total populasi penduduk Indonesia sekitar 262 juta orang. Angka tersebut meningkat 10,56 juta dibandingkan pengguna internet pada tahun 2016 (Hendrawati et al., 2020). Terdapat juga data durasi pengguna media sosial per hari yaitu 1-3 jam (43,89%), 4-7 jam (29,63%) dan lebih dari 7 jam (26,48%) (Hendrawati et al., 2020). Media sosial yang sering dikunjungi menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2016), yaitu facebook (54%), instagram (15%), youtube (11%), google (6%), twitter (5,5%) dan linkedin (0,6%). Namun, pada tahun 2020-2021 penggunaan media sosial semakin meningkat, dikarenakan di Indonesia mengalami darurat kesehatan yaitu masuknya pandemi covid-19. Pandemi covid-19 ini awal masuk ke Indonesia pada Bulan Maret tahun 2019. Penularan serta penyebaran yang sangat cepat dari virus covid-19 menyebabkan pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk meminimalisir penularan covid-19, yaitu melalui kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dalam kebijakan PSBB tersebut semua aktivitas manusia dilakukan secara online atau daring karena menghindari kerumunan. Sehingga, hal tersebut berdampak pada aspek kehidupan manusia, salah satunya yaitu ekonomi. 

Menurut menteri keuangan Sri Mulyani terdapat tiga dampak besar ekonomi selama pandemi covid-19, yaitu a) berdampak pada konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat yang jatuh, b) investasi melemah ditengah ketidakpastian pandemi covid-19, dan c) pelemahan ekonomi seluruh dunia yang membuat ekspor Indonesia terhenti (Abidin Achmad et al., 2020). Hal tersebut terjadi dikarenakan menurunnya kegiatan masyarakat di luar rumah, secara otomatis menimbulkan penurunan jumlah pembeli serta pendapatan menjadi berkurang. Dampak pandemi covid-19 ini tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga berdampak pada pelaku UMKM di Indonesia. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para pengusaha karena mereka banyak memanfaatkan media sosial sebagai platform untuk promosi. Media sosial yang banyak digunakan sebagai bidang promosi, yaitu Facebook, Instragam, Twitter, Whatsapp, Tik tok, dan media sosial lainnya. Serta terdapat platform belanja online seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, dan lainnya. Alasan media sosial digunakan sebagai media promosi dan berjualan karena media sosial menjangkau secara luas sampai ke belahan dunia. Sehingga, bisa menjangkau banyak pembeli dari seluruh belahan dunia, dan pendapatan bisa tetap stabil. 

Daftar Pustaka

Abidin Achmad, Z., Zendo Azhari, T., Naufal Esfandiar, W., Nuryaningrum, N., Farah Dhilah Syifana, A., & Cahyaningrum, I. (2020). Pemanfaatan Media Sosial dalam Pemasaran Produk UMKM di Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(1), 17–31. https://doi.org/10.15642/jik.2020.10.1.17-31

Cahyono, A. S. (2016). Pengaruh media sosial terhadap perubahan sosial masyarakat di Indonesia. Jurnal Publiciana, 9(1), 140–157. http://www.jurnal-unita.org/index.php/publiciana/article/download/79/73

Hendrawati, S., Aprilia, R., & Sriati, A. (2020). Tingkat Kecanduan Media Sosial pada Remaja. Jnc, 3(1), 41–53.

Nidaul Khasanah, F., Herlawati, Samsiana, S., Trias Handayanto, R., Setyowati Srie Gunarti, A., Irwan Raharja, Maimunah, & Benrahman. (2020). Pemanfaatan Media Sosial dan Ecommerce Sebagai Media Pemasaran Dalam Mendukung Peluang Usaha Mandiri Pada Masa Pandemi Covid 19. Jurnal Sains Teknologi Dalam Pemberdayaan Masyarakat, 1(1), 51–62. https://doi.org/10.31599/jstpm.v1i1.255

Sofiana, Y. (2014). Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perkembangan Desain Modern. Jurnal Humaniora, 5(2), 833–841.

Wahyudi, H. S., & Sukmasari, M. P. (2014). Teknologi dan Kehidupan Masyarakat. Jurnal Analisa Sosiologi, 3(1), 13–24.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *