Oleh: Dinda Angelina Rachma Aulia

Pandemi COVID-19 adalah kondisi yang terbilang unprecedented atau terjadi secara mendadak dan belum pernah dihadapi sebelumnya. Kondisi pandemi ini sedikit banyak telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dilihat dari sudut pandang politik, pandemi turut berperan dalam membatasi adanya gerakan-gerakan yang bersifat revolusioner dan melibatkan aktivitas massa di dalamnya. Hal ini dikarenakan adanya aktivitas massa yang berlebihan tidak bisa dibenarkan atas dasar protokol untuk menjaga jarak di masa pandemi ini. Lalu, bagaimana kemudian para aktivis tetap bisa produktif dan melakukan gerakan-gerakan sosial dalam batasan pandemi? Menjawab hal tersebut, peran dunia digital khususnya media sosial menjadi penting dalam hal ini.

Teknologi digital, dan khususnya aplikasi seperti media sosial, telah memainkan peran kunci dalam gerakan kolektif kontemporer. Ketersediaan mereka yang berkembang telah mengubah sumber daya, proses, dan hasil dari gerakan sosial. Pergeseran mendasar dalam sifat pengorganisasian kolektif ini, di luar batas-batas formal organisasi (Young et al., 2019). Dengan adanya media sosial, gerakan kolektif masih bisa terhubung melalui platform-platform seperti twitter dengan fitur hashtag nya.  Penggunaan media sosial menjadi salah satu instrumen penting dalam gerakan sosial di era saat ini, mengingat kondisi pandemi juga menjadikan segala bentuk aktivitas kolektif sangat dibatasi.

Aktivisme kontemporer, jika dilihat melalui lensa tindakan yang terkoneksi, dapat dikatakan berbeda dari aktivisme tradisional dalam tiga hal: Ketergantungannya pada teknologi jaringan, penciptaan komunitas yang terhubung secara longgar, yang kemudian terus bergeser, dan fokusnya pada ekspresi keterlibatan secara individual (Rosenbaum & Bouvier, 2020). Melihat dari hal tersebut, maka sudah menjadi konsekuensi bahwa peran teknologi khususnya peran sosial media menjadi penting dalam aktivisme atau gerakan-gerakan sosial. Adanya teknologi telah banyak berdampak terhadap bagaimana cara manusia berkomunikasi. Hadirnya sosial media juga mengubah bagaimana gerakan sosial bisa berjalan. Sosial media memungkinkan setiap orang mampu memberikan suara atas keadaannya yang termarginalisasi dari komunikasi yang mainstream dan umum. Disisi lain, sosial media juga menjadi alat penghubung solidaritas berdasarkan concern terhadap suatu isu yang sama baik secara lokal, nasional, maupun internasional.

Kemudian dalam gerakan sosial yang memanfaatkan sosial media sebagai instrumennya, terdapat setidaknya tiga dimensi yang terlibat dalam proses pengorganisasian secara digital yakni : aktor, teknologi digital, serta aliran informasi (Young et al., 2019). Dalam hal ini aktor dipahami sebagai pelaku yang terlibat dalam pengorganisasian gerakan sosial secara digital maupun aksi kolektif secara digital. Aktor terbagi lagi menjadi kerumunan atau crowds, organisasi, individu, dan bot. Hal yang menjadi menarik dalam pengorganisasian digital yakni adalah bot atau robot termasuk dalam elemen aktor. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya penggunaan bot di dunia digital merupakan hal yang umum. Bot biasanya dikendalikan oleh manusia, namun perannya sebagai aktor dalam gerakan sosial bisa dianggap cukup penting. Penggunaan bot biasanya digunakan untuk melakukan kampanye di sosial media khususnya di bidang politik. Manusia bisa menggunakan banyak akun sekaligus yang kemudian dioperasikan oleh bot, hal ini memungkinkan bot menambah kuantitas aktor yang terlibat. Meski demikian, penggunaan bot masih menjadi perdebatan karena gerakan sosial yang dilakukan melalui dianggap tidak terlalu engage dengan isu yang ada karena bisa saja kebanyakan aktornya adalah bot.

Sementara itu adanya dimensi pengorganisasian secara digital juga menjadi krusial dalam gerakan sosial kontemporer. Platform media sosial seperti twitter, facebook, instagram, dan sebagainya memiliki algoritmanya sendiri. Hal ini memungkinkan banyak orang bisa mengakses informasi yang sering menjadi minatnya dan pengguna yang saling terhubung juga akan mendapatkan informasi yang serupa. Pengulangan yang terus terjadi ini menjadikan gerakan sosial yang memanfaatkan sosial media menjadi lebih kompleks dan dinamis. Sama hal nya dengan dimensi aliran informasi, aliran informasi menggunakan media sosial juga melampau batas-batas secara tradisional sehingga banyak orang bisa mengakses suatu informasi dengan kuantitas yang hampir tak terbatas di dunia digital.

Banyak gerakan sosial yang kini memanfaatkan peran media sosial secara optimal. Misalnya saja gerakan Bali tolak Reklamasi di Teluk Benoa. Gerakan ini melalui sosial media mampu membangun solidaritas tidak hanya di tingkat lokal, namun juga nasional bahkan internasional berkat propaganda dan kampanye yang dilakukan melalui sosial media. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial menjadi salah satu bukti techno optimism, yakni pendekatan yang menekankan peran sosial media dan dunia digital dalam penyelesaian masalah-masalah sosial (Kidd & Mclntosh, 2016). 

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa media sosial memiliki peran sebagai instrumen penting dalam gerakan sosial kontemporer. Tidak hanya sebagai sarana menyebarkan informasi namun juga sebagai penghubung solidaritas antar individu yang memiliki suatu concern mengenai suatu isu yang sama. Sosial media mematahkan batasan-batasan secara tradisional, di sisi lain juga menjadikan setiap pengguna memiliki peluang yang sama untuk menyuarakan keresahan terhadap suatu permasalahan atau isu sosial yang terjadi lalu mengumpulkan dan mengorganisasikan massa secara digital. Hal ini kemudian menjadi peluang di masa pandemi bagi aktivisme-aktivisme, gerakan kolektif, dan gerakan sosial untuk bisa terus terorganisir dan berjalan dengan semestinya.

Referensi

Kidd, D., & Mclntosh, K. (2016). Social Media and Social Movements. Sociology Compass, 10(9), 785–794. https://doi.org/10.1111/soc4.12399

Rosenbaum, J. E., & Bouvier, G. (2020). Twitter, social movements and the logic of connective action: Activism in the 21st century – an introduction. Participations Journal of Audience & Reception Studies, 17(1), 120–125.

Young, A., Selander, L., & Vaast, E. (2019). Digital organizing for social impact: Current insights and future research avenues on collective action, social movements, and digital technologies. Information and Organization, 29, 1–6. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.infoandorg.2019.100257

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *