Oleh: Tiara Indah Permata Hati

Dunia, seperti yang kita tahu, adalah sekumpulan dari beberapa negara. Dari banyaknya negara yang telah berdiri, hanya 38 negara yang disetujui oleh berbagai perkumpulan internasional layak disebut sebagai negara maju. Sesuai data ini, tidak salah sepertinya, saya berpendapat bahwa sebuah negara yang disebut maju, pasti memiliki ketentuan mutlak yang sangat signifikan berpengaruh terhadap kemajuan negaranya. Pendidikan tentu menjadi salah satu kuncinya. Seperti yang tertuang dalam untaian kata legendaris oleh Nelson Mandela, ‘Education is the most powerful weapon which you can use to change the world’. Yang bila diterjemahkan kira-kira berarti ‘Pendidikan adalah senjata terampuh untuk mengubah dunia’. Memang, bila kita memerhatikan sejarah, sudah sejak peradaban pertama manusia lahir, pendidikan menjadi pemula atau perintis sebuah awal yang baru. Penemuan roda, lampu, hingga alat komunikasi yang mengubah kehidupan manusia setelahnya, semua lahir dari kata yang bernama pendidikan.

Seiring majunya teknologi tentu semua ikut berkembang. Tak terkecuali pendidikan itu sendiri. Walau zaman terus melaju, pendidikan tidak pernah basi dalam memajukan zaman. Hingga saat ini kita hidup di zaman yang disebut milenial, kita masih akan terus merasakan peran pendidikan dalam mengubah perjalanan hidup seseorang. Dengan begitu, merupakan suatu hal yang wajar bila pemerintah di setiap negara terus mencari cara agar sistem pendidikan yang dimilikinya terus melahirkan generasi emas dalam menghadapi tantangan zaman yang berbeda-beda. Tak terkecuali Indonesia, dimana negara ini memiliki cara tersendiri dalam mengaktualisasi sistem pendidikannya sesuai zaman. Yaitu tercermin dalam kurikulum pembelajaran di setiap sekolah yang terus diperbarui untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik. Sudah sepuluh kali, Indonesia memperbaiki kurikulum, dimana masing-masing kurikulum memiliki satu prioritas yang diunggulkan. Pada kurikulum yang berlaku sekarang, penguatan pendidikan karakter menjadi tujuannya.

Sebagai bentuk ketidaksiapan dalam menghadapi pergantian kurikulum, pertanyaan tentu bermunculan. Mengapa karakter ada penilaiannya sendiri setelah sekian lama kita hanya fokus pada intelektual saja? Apakah ada hal konkret yang menandakan seberapa bobrok bangsa ini sampai-sampai nilai sikap disejajarkan dengan pengetahuan dengan dijadikan sebagai syarat kenaikan kelas bagi pelajar? Atau murni kesadaran pemerintah bahwa dalam tingkat prioritas, karakter dan ilmu pengetahuan adalah sama? Terlepas dari pertanyaan di atas, kita pasti mengetahui alasannya, karena itu selalu menjadi hot news berita di Indonesia setiap ada yang tertangkap, apalagi kalau bukan korupsi oleh para abdi negara. Menjadikan pendidikan karakter sebagai pondasi utama dalam pelaksanaan kurikulum, telah dirintis dan sedang dicoba sebagai solusi untuk mencegah tindakan korupsi ke depannya.

Kemudian, saya menyadari bahwa tujuan pendidikan karakter sebenarnya ada pada satu kata kunci. Yaitu kata ‘mencegah’. Karena mencegah berarti menahan agar sesuatu tidak terjadi, dan mencegah hanya bisa dilakukan sebelum sesuatu terjadi. Bila sudah terjadi maka lain lagi kata kerja yang dipakai dan lain pula penanganannya. Bila nilai kebaikan sudah tertanam kuat dari kecil, maka akan susah untuk mengubahnya. Inilah alasan utama pemerintah menanamkan pendidikan karakter dalam pendidikan sejak kecil agar nilai kebaikan yang paling mendasar sudah berakar di setiap otak generasi Indonesia, bahkan dijadikan pedoman dalam menapaki kehidupannya. Jangan sampai sudah dilakukan, baru ditangani, karena jauh lebih susah memberantasnya, seperti yang sudah terjadi sekarang. Memang benar kiranya pepatah ‘Lebih baik mencegah daripada mengobati’.

Kemudian, kita akan menjawab pertanyaan paling pokok dalam masalah ini. Mengapa pendidikan karakter begitu penting bagi semua generasi Indonesia? Pendidikan karakter adalah pengajaran yang di dalamnya tidak hanya mengajar tetapi juga untuk mendidik, sehingga kebiasaan murid yang buruk juga menjadi tanggung jawab guru untuk mencegahnya. Inilah arti sebenarnya dari pendidikan. Karena bila dilihat, kita akan tahu bahwa kata dasar dari pendidikan adalah ‘didik’ yaitu memberikan pengarahan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran bukan hanya mengedepankan kepintaran. Deskripsi ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal, seharusnya pendidikan karakter sudah dilibatkan dalam pendidikan.

Setiap orang tua yang meyekolahkan anaknya tentu memiliki latar belakang masing-masing. Selain agar bisa mendapatkan ilmu, sebagian besar orang tua rela mengeluarkan biaya sekolah yang besar agar tabiat buruk anaknya berubah. Karena orang tua yang sibuk bekerja, belum tentu memiliki cukup waktu untuk mengawal perilaku anaknya dari pagi hingga malam. Oleh karena itu, orang tua memercayakan sekolah dalam mendidik anaknya, walau tidak sepenuhnya juga. Dengan adanya pendidikan karakter tentu semakin memuluskan tujuan orang tua agar anaknya berperilaku santun dan lurus.

Menurut saya, mencari orang yang pintar mudah dicari. Melatih kepintaran seseorang memang tidak mudah, tetapi setidaknya kemungkinan keberhasilannya cukup tinggi. Banyak contoh orang besar yang saat masih kecil dianggap bodoh dan diremehkan, namun saat besar mampu mengubah dunia. Tetapi, sangat berbeda bila harus mengubah sifat seseorang apalagi yang sudah menjadi kebiasaan. Berbicara sifat pasti sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya sejak lama. Bila ingin mengubah sifat seseorang sama saja dengan mengubah keinginannya dalam bersikap. Dan keinginan seseorang hanya bisa diatur oleh individu itu sendiri. Walaupun sudah banyak orang berusaha mencegah keinginan buruknya, bila dirinya tidak mau berubah, maka selamanya tidak akan berubah. Untuk mengantisipasi hal seperti inilah, pendidikan karakter dihadirkan melalui program pendidikan oleh pemerintah.

Jika pendidikan karakter terlambat ditanamkan pada generasi muda yang merupakan pemegang Indonesia berikutnya, maka tentu akan banyak perilaku mereka yang sangat tidak mencerminkan bangsa kita sendiri. Indonesia akan semakin menjadi negara yang tidak beradab, karena melupakan nilai kebaikan dalam menjalankan roda pemerintahan.Semua perilaku buruk yang ada sejak kecil terus dibawa hingga besar dan memiliki pekerjaan. Anak yang malas, contohnya. Bila sudah memiliki pekerjaan nanti dan perilaku ini masih ada, maka hanya akan menjadi beban perusahaan dengan memperlamabat kinerja perusahaan, karena bahyaknya tugas yang belum diselesaikan. Tentu saja, pada akhirnya hanya akan merugikan dirinya sendiri, karena akhir-akhirnya pasti akan dipecat dari perusahaan.

Anak yang memiliki kebiasaan menyontek juga, bila tidak dihilangkan kebiasaannya akan berdampak buruk nantinya. Anak yang suka menyontek berarti ia orang hanya mau hasil yang puas tanpa mau bekerja keras, sehingga akan melakukan segala cara asalkan hasil yang diperolehnya memuaskan, entah cara baik atau jahat. Bila sudah besar dan menjadi orang besar, orang seperti ini akan berusaha mendapat gaji yang besar tanpa mau berkorban besar, sehingga mereka akan mencuri uang rakyat yang ia kelola untuk kepuasannya sendiri. 

Akhirnya, anggaran yang seharusnya digunakan untuk kemakmuran bersama akan berakhir di tangan segelintir orang saja, sehingga pertumbuhan Indonesia akan terhambat. Semua ini hanya bersumber dari penyakit menyontek saat masih pelajar dulu. Masih kita anggap kecilkah budaya menyontek saat ulangan dan masihkah kita mengabaikan pendidikan karakter? Menanggapi semua akibat yang bisa ditimbulkan dari tidak melaksanakan pendidikan karakter, sudah sepatutnya kita mengubah persepsi kita. Semula, kita menganggap sekolah hanya tempat menuntut ilmu harus diubah menjadi sekolah adalah tempat mendidik generasi bangsa. Karena, tujuan kita hanya satu yaitu memajukan Negara Indonesia yang didukung menggunakan dua jalan yaitu dengan membangun intelektual dan karakter secara simultan.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *