TEOLOGI  BARAT : MEMBANGUN PERADABAN DENGAN MEMBUNUH PERAN TUHAN TERHADAP MANUSIA

Oleh Gemilang Surya Mahendra

Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang ia tak dapat diangkatnya?” mungkin seperti itulah makna tanya Peter Abelard –seorang filsuf di masa sebelumnya. Sebuah pertanyaan yang ia sendiri tak bisa menjawabnya. Pertanyaan sejenis ‘ Apakah tuhan mampu menciptakan sesuatu yang lebih baik dariya?’ timbul karena apa makna tuhan baginya masih kabur. Lantas ia memilih bertanya tanpa kapasitas ilmu yang akhirnya berujung menjadi sebuah guyonan atau plesetan bagi kalangan masyarakat barat yang juga sama jauhnya dari ilmu mengenai tuhan.

 ‘Bagaimana mereka bisa faham?’ Tanya balik seorang pendeta dan profesor Universitas Birmingham, David Thomas di suatu ketika. Sebab, paparnya, orang-orang barat maju dan berkembang bukan karena agama mereka, karena justru merekalah yang melanjutkan hidup tanpa membawa serta pemahaman tersebut. Bos pabrik cokelat terbesar –sebut saja Cadbury, katanya mencontohkan, menyumbang jutaan poundsterling untuk membangun perpustakaan besar bukan karena ia seorang yang agamis, tapi melainkan karena ia kaya dan punya dana sosial lebih. Thomas sepertinya ingin mengatakan bahwa kemajuan barat tak lahir dari pandangan hidup agama mereka. Barat bukanlah identik dengan agama mereka, karena justru agama tersebutlah yang dipaksa menjadi barat atas dasar rasionalitas dan kebebasan. Sejarawan barat seperti Onians, Arthur atau William McNeill ikut membenarkan fakta sejarah tersebut. Agama kini dipaksa mundur dan duduk manis di ruang ibadah, tanpa boleh ikut campur dalam ruang publik. Diskursus teologi hanya boleh dilakukan bisik-bisik. Tapi, orang boleh berteriak anti agama –atas dasar HAM. Hegemoni diganti hegemoni lain. Hingga tak sadar berbagai kemajuan tanpa hadirnya tuhan hanya menghasilkan kacaunya corak pikir atas kebenaran dan merosotnya moralitas dan spiritual dalam kehidupan.

‘Kematian’ tuhan di barat ditandai dengan penutupan diskursus metafisika tempat teologi besemayam, sehingga melahirkan kondisi diskursus yang kian terbuka dimana tiap orang boleh bertanya dan berijtihad mengenai tuhan. Sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis hingga orang awam sekalipun berhak bicara tentang tuhan. Akibatnya, para teolog pun kewalahan, pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes teologi banyak orang gagal dijawab. Teolog akhirnya di geser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa dipahami tanpa otoritas teolog. Darisanalah masuk para pemikir filsafat dan saintis yang  mengaburkan mengenai eksistensi agama dan tuhan. Mereka mencoba mengkritisi ayat-ayat dalam kitab suci mereka yang problematik dengan akal dan rasional. Hasil akhirnya sudah jelas, orang-orang mulai meragukan isi teks kitab suci, sekaligus hakikat dan eksistensi Tuhan. Maka muncullah polarisasi agama atas pemahaman baru, Sekulerisme, Liberalisme dan Atesime modern.

Kini di barat, tuhan bukan lagi supreme being. Tak ada lagi yang absolute. Semuanya relatif. Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar, maka orang lain berhak menghakiminya salah. Tuhan tidak bisa lagi diwakili. Ia telah mati. Sebagaimana teriakan Nietzche “The God is dead” pada tahun 1882 masih terdengar hingga kini jua. Dalam the gay science ia mengatakan, “Ketika kami mendengar ‘Tuhan tua itu telah mati’, kami para filsof dan jiwa-jiwa yang bebas’ merasa seakan fajar telah menyingsing menyinari kita”. Ia tak sendiri, dibelakangnya Feurbarch, Karl Marx, Darwin hingga Sigmund Freud yang berpendapat jika tuhan belum mati, maka sudah menjadi tugas manusia rasional untuk membunuhnya. Bagi mereka, tuhan harus disingkirkan karena ia tak lagi relevan dalam perkembangan rasionalitas akal modern. Barangkali sedikit berbeda dengan Voltaire yang menganggap tuhan tak boleh mati, melainkan harus ada. Seandainya tidak, kita wajib menciptakannya, dengan catatan bahwa tuhan tak boleh bertentangan dengan rasionalitas akal. Sungguh lawakan yang menggelitik.

Mengapa tuhan perlu dibunuh? kalau Marx manganggap agama adalah candu masyarakat, sedangkan bagi hegel tuhan adalah tiran barbar yang lalim atas manusia. Berbeda lagi dengan Nietzche yang mengangap tuhan adalah tirani jiwa. Beriman pada tuhan adalah tidak bebas dan bebas berarti tidak beriman. Keimanan adalah simbol keterikatan, kelemahan dan ketergantungan manusia, juga simbol keterkekangan akal. Dengan beriman bagi mereka adalah simbol penjajahan atas kebebasan yang didamba masyarakat, juga penghalang akan adanya kemajuan. Barangkali trauma akan tirani feodal dan inkusisi gereja masa kegelapan (Dark Age) memang kian membekas dimata masyarakat Eropa. Dark Age memang menghadirkan kondisi pembatasan akal dan pengetahuan atas nama tuhan, yang menghasilkan keterbelakangan dan kebobrokan fisik dan mental. Tuhan dan agama seolah menjadi momok seram tersendiri dimata publik. Sebuah kesimpulan tercetus dalam pikiran mereka, demi meraih kemajuan pengetahuan maka langkah awalnya adalah meninggalkan tuhan dan keimanan, sebagai simbol keterbelakangan. Inilah yang terjadi di masa Rennaisance. Demikianlah yang bisa kita lihat sekarang bahwa segala kemajuan yang mereka peroleh akhirnya justru muncul ketika meninggalkan tuhan. Dampak sejarah terkadang kian mengerikan bagi masa depan.

Sejarah barat adalah sejarah pencarian ‘kebenaran’. Sayangnya urusan mencari kebenaran di barat lebih penting daripada hakikat kebenaran itu sendiri. Mencari untuk mencari, ilmu untuk ilmu dan seni untuk seni. Sesudah ‘Membunuh Tuhan’, Barat mengangkat tuhan baru bernama rasionalitas dan liberalisme, sesuai apa yang didambakan para filsuf mereka. Sayang tidak dalam waktu yang lama, liberalisme justru menjelma menjadi sosok tanpa wajah, realitas sekaligus makna yang menentang pandangan-pandangan yang menyimpang didalamnya. 

Teologi barat secara etimologis tidak lagi memiliki akar ketuhanan. Istilah teologi pembebasan, teologi emansipasi dan sebagainya sudah tak memiliki urusan apapun dengan yang Maha Kuasa, karena diskursus tentang tuhan dan manusia yang pernah terjadi di abad pertengahan kini sudah tak relevan. Humanisme justru telah mendominasi dan menyingkirkan teisme. Akibatnya, muncul teologi tanpa metafisiska, agama tanpa spiritualitas bahkan agama tanpa tuhan. Agama sendiri bagi postmodernis tidak lebih hanya sekedar narasi besar yang dapat diotak-atik oleh permainan bahasa. Makna realitas tergantung kepada kekuatan dan metafora kretifitas imajinasi fantasi para pemikir. “Maka jadilah kegagalan para pemikir itu untuk memahami tuhan”, yang menurut Martin Buber, “karena filsafat mereka hanya bermain dengan metafora pikiran tanpa rasa keimanan”. Francois Bacon juga senada dengan menyampaikan problematika gagal memahami tuhan dikarenakan mindset manusia barat yang menganggap teologi hanya hal tak rasional dan proses berfilsafat mereka tanpa melibatkan keimanan.

Maka inilah kata barat –sebagaimana yang direkam Hamid fahmi zarkasy dalam bukuny Misykat, ‘Kebenaran itu relatif dan menjadi hak milik  semua. Kebenaran adalah ilusi verbal yang diterima masyarakat atau tidak beda dengan kebohongan yang disepakati bersama. Etika harus diglobalkan agar tidak ada orang yang merasa dirinya lebih baik. Baik dan buruk tidak perlu berasal dari apa kata tuhan, sebab akal manusia boleh menentukannya sendiri’. 

Terakhir, barat akhirnya menjadi sebuah peradaban maju(?) tanpa teks (Kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan tanpa tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik. Barat adalah peradaban bebas tuhan dimana ia hanya mitologi dalam khayalan, sangat jauh dari ilmu sains-filsafat di dunia empiris. Barat adalah peradaban hasil arogansi akal manusia yang terbatas, berusaha melawan fitrah sejatinya yang rapuh. Barat adalah peradaban yang menyangsikan jari-jemari tuhan yang berkelindan memainkan benang kehidupan yang tak pernah dipahami manusia. Barat adalah peradaban traumatis terhadap sejarah yang egois memaksakan hasil pengalamannya pada peradaban lain yang tak serupa dengannya. Barat adalah peradaban yang bertrasformasi menjadi sebuah pola pikir dan pandangan yang bisa mempengaruhi pandangan hidup orang banyak. Dan akhirnya barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang menempuh ‘ketiadaan yang tanpa batas’.

Dan disuatu saat nanti, semoga akan kembali teringat keluh David Thomas lewat tangis tertulian yang sudah lapuk, “Apalah arti Athena tanpa Yerussalem?”. Apalah arti kemajuan ilmu pengetahuan tanpa didukung pemahaman spiritulitas agama, apalah arti ilmu tanpa iman? mungkin begitulah maksud pernyataannya. “Sebagaimana hal serupa yang disebutkan olah pria dari timur itu”, tutupnya.

***

Refrensi 

Husaini, Adian. 2018. Wajah Peradaban Bara, dari hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberalt. Depok : Gema insani

Maksum, Ali. 2016. Pengantar Filsafat. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

Siauw, Felix Y. 2013. Beyond The Inspiration. Jakarta : Alfatih Press

Zarkasy, Hamid Fahmi. 2012. Misykat, Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi Dan Islam. Jakarta : INSIST-MIUMI.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *