oleh: Ninik Fatriana

Berbagai hal yang melibatkan kemajuan teknologi saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Masa saat ini boleh saja mengatakan jika berbagai bidang kehidupan saat ini akan terlibat oleh teknologi dan masyarakat harus dapat menyesuaikan dirinya dan beradaptasi dengan perubahan yang hadir. Salah satunya adalah sistem pendidikan yang dilakukan secara daring yang saat ini banyak diterapkan oleh masyarakat akibat pandemi covid 19. Namun pada kenyataannya, berbagai kendala tidak dapat dipungkiri mempengaruhi lajunya perkembangan teknologi. Karena pada dasarnya tidak semua kalangan usia dapat dengan mudah menerima dan menyesuaikan diri akan perubahan tersebut, dan tidak semua individu memiliki alat penunjang yang sesuai untuk mengakses jaringan internet yang digunakan.

Perdaringan ini tidak hanya memberatkan pelajar, namun juga orang tua mereka. Pernyataan ini kian banyak muncul dalam kondisi wabah virus corona yang tak kunjung usai sejak tahun 2020 silam. Sistem pendidikan daring sebagai alternatif untuk meminimalisir persebaran virus covid 19 ini semakin membias pada masyarakat. Berbagai lembaga tanpa terkecuali diharuskan menggunakan media digital dalam proses pembelajarannya. Namun dengan berbagai kendala dan keterbatasan yang ada, solusi ini malah menjadi sebuah masalah baru bagi beberapa individu. Sehingga hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan, apakah sistem pendidikan daring ini menjadi solusi ataukah masalah baru pada masyarakat? 

Perdaringan Ini Solusi atau Masalah Baru (?)

Sistem pendidikan daring harus dilakuan supaya kegiatan belajar tetap berjalan pada masa pandemi ini (Handarini, O : 2020). Dalam proses pembelajarannya dibutuhkan sarana dan prasarana untuk menunjang berlangsungnya sekolah ini. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa banyak pelajar yang menggunakan laptop dan smartphone dalam pembelajaran. Kemampuan laptop dan telepon pintar untuk mengakses internet memungkinkan pelajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan dalam bentuk konferensi video maupun yang dilaksanakan dalam kelas-kelas online menggunakan layanan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang tersedia secara online (Kay & Lauricella dalam Firman & Sari, 2020:83). Pemanfaatan teknologi internet banyak berperan dalam pembelajaran online ini, seperti yang telah disebutkan jika kelas online berjalan menggunakan layanan aplikasi meliputi zoom teleconference, google meet, video call, google classroom, dan banyak hal lainnya, maka alternatif pembelajaran ini membutuhkan pengeluaran tambahan. Karena tidak dapat dipungkiri, dari sistem daring ini penggunaan kuota internet akan semakin bertambah daripada sebelumnya, banyak yang kemudian akan diakses dalam internet dan tentu saja memakan kuota internet mereka. Meskipun pemerintah telah berupaya memberikan kuota internet gratis, namun pada kenyataannya, pembagian tersebut tidak terbagi dengan merata dan sebagian ada yang tidak dapat digunakan sama sekali untuk mengakses internet. Menilik dari perangkat dan sarana prasarana yang dibutuhkan, pembelajaran daring dapat dilakukan dengan menggunakan smartphone, laptop, maupun ipad. Meskipun mayoritas dari pelajar telah menggunakan smartphone dan telah memiliki laptop, namun ada beberapa dari mereka yang memiliki keadaan kurang mendukung dan belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Dari kondisi ini, ada beberapa instansi yang memberikan layanan gratis kepada pelajarnya untuk mengakses perangkat yang dimiliki instansi tersebut, namun perlu diketahui bahwasannya tidak semua instansi akan memberikan pelayanan yang sama terhadap kebutuhan pelajarnya. 

Disisi lain dari keadaan para pelajarnya, pembelajaran daring ini juga melibatkan para pengajar. Dalam penelitian yang sudah ada, para pengajar mengatakan bahwa salah satu dampak yang mereka rasakan ketika pembelajaran daring adalah pembuatan RPP yang bersistem daring. Mereka dituntut untuk mampu melakukan pembelajaran daring, padahal persiapan dan juga literasi mereka terhadap pembelajaran daring masih kurang maksimal (Sari. R, Tusyantari.n, & Suswandari.M, 2021). Hal ini mengingat bahwa tenaga pengajar tidak semuanya termasuk dalam golongan usia yang mampu memahami teknologi dengan cepat dan terbiasa dengan penggunaan teknologi. Selain terkendala oleh persiapan, banyak juga dari pengajar yang merasa bahwa pembelajaran daring memiliki keterbatasan fisik yang sulit mengkomunikasikan materi kepada anak didiknya. Akan tetapi, kondisi ini dapat melatih para pengajar untuk lebih kreatif dalam menyampaikan materinya agar lebih efektif dan mudah diterima oleh pelajar. 

Tidak dapat dipungkiri, kegiatan pembelajaran daring ini melibatkan peran pengajar dan juga pelajar, sehingga persiapan harus berbekal dari keduanya. Banyak dampak dari pembelajaran daring ini juga berpengaruh pada perilaku seorang anak. Selain itu, dampak tersebut ikut serta dirasakan oleh orangtua mereka, dikarenakan menurunnya capaian belajar anak, hilangnya semangat anak dalam pembelajaran dan mengerjakan tugas, serta berkurangnya sosialisasi mereka terhadap lingkungan (Kurniawati, E dalam Tempo.co : 2020). Orangtua menjadi ikut berpartisipasi dalam pembelajaran dengan mengerjakan tugas anak mereka, mengkoordinasi anak dan juga pengajar, serta berperan aktif untuk mengawasi kegiatan anak yang terpaku oleh smartphone, sebagai antisipasi hal negatif apabila anak mereka memanfaatkan media digital tersebut selain untuk media pembelajaran. 

Kesimpulan 

Segala proses pembelajaran daring ini adalah hal baru bagi pengajar dan pelajar yang muncul atas keadaan sosial saat ini karena pandemic covid 19. Efektifitas dari pembelajaran daring melibatkan persiapan yang baik antara pengajar dan juga pelajar. Maka, pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila pengajar mampu beradaptasi dan mengambil sisi positif dengan lebih kreatif dalam menyampaikan materinya, serta pelajar dapat menyesuaikan diri.  Namun, dari pembahasan diatas pembelajaran secara daring  sejauh ini berjalan masih belum efektif dikarenakan banyak faktor-faktor yang kurang mendukung seperti keadaan ekonomi, keterbatasan perangkat, dan juga stress orangtua terhadap kondisi perdaringan ini. 

Kemudian apakah perdaringan ini menjadi solusi ataukah masalah baru tergantung pada bagaimana masing-masing individu yang terlibat dapat menerima perubahan yang ada saat ini. Selain itu diperlukan juga peran-peran pendukung yang dapat membantu menunjang proses pembelajaran ini berlangsung. Karena jika dampak-damapk yang telah dijelaskan diatas tidak teratasi, maka pembelajaran daring ini akan menjadi masalah baru seperti anak putus sekolah, ketimpangan sosial akibat sarana prasarana yang tidak mendukung, serta berdampak pada perekonomian keluarga karena bertambahnya pengeluaran. Sehingga betul adanya jika kondisi pandemi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, namun juga terhadap kondisi sosial, pendidikan, bahkan ekonomi negara, dan hal ini tidak akan kunjung membaik, jika kesadaran masyarakat masih kurang, sehingga perlu adanya optimalisasi kepekaan masyarakat dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. 

Daftar Pustaka 

Firman & Rahman, S. (2020). Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19. Indonesian Journal Of Educational Science (IJES), 2(2), 81-89. 

Handarini, O.(2020). Pembelajaran Daring sebagai Upaya Study from Home (SFH) selama Pandemi Covid 19. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran, 8(3), 496-503. 

Kurniawati, E. (2020). Dampak Negatif dan Positif Pembelajaran Jarak Jauh Selama Pandemi Covid 19. Tempo.co. Diakses pada 16 september 2021, dari https://metro.tempo.co/read/1391861/dampak-negatif-dan-positif-pembelajaran-jarak-jauh-selama-pandemi-covid-19 

Sari. R., Tusyantari. N., & Suswandari.M. (2021). Dampak Pembelajaran Daring bagi Siswa Sekolah Dasar selama Covid 19. Jurnal Ilmiah Kependidikan, 2(1), 9-15. 

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *