Oleh: Anisa Salsabilla
Email: anisasalsa@student.ub.ac.id 

Pandemi Covid-19 sudah memasauki tahun keduanya dengan dinamika yang terus naik turun serta telah melewati berbagai problematika yang cukup menjadi tantangan besar bagi negara-negara di dunia. Mobilisasi msayarakat terganggu hingga hilangnya kesempatan-kesempatan untuk mengekspresikan diri. Hal ini semakin di perburuk dengantidak terakomodirnya hak-hak masyarakat sebagai makhluk sosial yang harus terus berkembang dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan serta keahlian. Salah satu kebutuhan dasar manusia yang tidak terakomodir akibat dampak pandemic ini adalah berkurangnya interaksi dan mobilisasi. Kegiatan ini mungkin dianggap hal yang sepele namun tak jarang masalah besar bersumber dari banyaknya maslah kecil yang terus menerus menumpuk menjadi satu. 

Namun tidak bisa di pungkiri juga adanya pandemic covid-19 seiring berjalannya waktu menimbulkan sebuah kebiasaan baru dalma kehidupan masyarakat. Dibarengi dengan pertumbuhan teknologi dan komunikasi, sistem daring seakan benar-benar tealh dipersiapkan untuk menghadapi tantangan yang semakin besar ini. Sebab mau tidak mau kegiatan belajar mengajar, bekerja dan aktifitas ekonomi harus tetap dilakukan. Maka dari itu pemanfaatan media masa sangat dimasifkan baik itu dalam bidang pendidikan, perekonomian serta sebagai jalur komunikasi an interaksi masyarkat saat.

Berbicara mengenai media sosial tidak akan jauh dengan anak muda dan generasi Z saat ini. Mereka yang lahir pada tahin-tahun sekitaran tahun 2000-an ini sangat seperti bisa dikatakan lahir dan tumbuh bersama kecanggihan teknologi. Penggunaan media sosial seringkali digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan potensi diri dan fokus bidang terlah mereka tekuni tidak terkecuali sebagai media self-branding. Self-branding endiri dapat dikatakan sebagai metode atau cara bagaimana membangun citradiri seseorang sehingga ia dapat dipandang sebagaimana ia diinginkan oleh masyarkaat. Ketika situasi sebelum pandemic self braning ini biasanya ditumbuhkan melalui keaktifan dan kreativitas yang dilakukan pelajar dan mahasiswa dalam berbagai kegiatan yang ditekuninya. Namun ketika pandemic, media self-branding sudah pindah keranah pemanfaatan sosial media.

Sosial media yang biasnya digunakan adalah Instagram, twitter, tiktok hingga facebook walau sekarang facebook tidak terlalu eksis namun keberadaannya masih menyumbang kontribusi sebagai wadah berekspresi bagi kaum muda. Kemudian muncul lagi aplikasi-aplikasi lain yang membawa variasi fitur yang semakin memperbesar akses masyarkat untuk mengenali seornag individu baik itu dalam skala profesioal dan secara personal.

LinkedIn adalah satu platform media sosial yang menajdi salah satu andalan bagi anak muda, dan para fresh graduate untuk mencari kerja sekaligus membranding diri mereka. LinkedIn tidak hanya berisi profile diri namun juga mencakup pengalaman dan aktifitas yang tengah dan sedang dilakukan, sehingga pengguna dapat terus mengupgrade kegiatannya sesuai real time. Selain itu kini LinkedIn dianggap sabgai salah satu emdai yang ampuh dalam meningkatkan personal branding hal ini dikarenakan beberap alasan berikut:

  1. LinkedIn merupakan aplikasi khusus yang tidka banyak mespesifikan pada vitur tententu melainkan hanya fokus pada mengelolaan data-data yang diperlukan ketika kita melamar pekerjaan.
  2. LinkedIn juga digunakan oleh perushaan untuk mencari para pekerja sesuai dengan kriteria yang diperlukan oleh perusahaan sehingga sangat mudah dalam proses perekrutan dan dapat meminimalisir waktu yang ada.
  3. LinkedIn juga mengupdate berbagai lowoangan pekerjaan, internship,berbagai kegiatan dan juga  event seminar serta kegiatan-kegiatan pengembangan diri lainnya.

Ketiga hal inilah yang menjadikan linkedIn menjadi salah satu platform media sosial yang banyak di gandrungi oleh masyarakat dan halayak umum. Namun tidak bisa di pungkiri terdapat banyak platform dan aplikasi lainnya yang juga menawarkan hal yang serupa, tetapi berdasarkan analisi pribadi penulis yang didapat melalui data wawancara intensif personal dengan salah satu pengguna aktif LinkedIn ditemukan fakta bahwa tampilan dan kemudahan dalam cara penggunaan dari aplikasi juga membawa peran penting dalam menggait masyarakat untuk menggunakan LinkeIn untuk melakukan branding dirinya selama masa pandemic saat ini.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwasayan masyarakat lama-kelamaan mulai menyesuaikan diri dengan pandemic yang ada. Kemajuan teknologi seakan menjadi jawaban bagi Sebagian persoalan yang ada di masyarakat, salah satunya yang berkaitan dengan personal branding individu. Hadirnya LinkedIn diantara berbagai pilihan aplikasi lainnya membuka kesempatan baru bagi para pengguna untuk memperomosikan diri, mengeskpresikan diri serta menyusun rencana jangka panjang dalam rangka menunjang karirnya.

Daftar Pustaka

Luik, Jandy. “Media Sosial Dan Presentasi Diri,” n.d.

Ramaquita, Alvin, and Andry Alamsyah. “MODEL CREDIT SCORING BERDASARKAN DATA DEMOGRAFI DAN JEJARING SOSIAL DI MEDIA SOSIAL ( STUDI KASUS : LINKEDIN ) ( CREDIT SCORING MODEL BASED ON DEMOGRAPHIC AND SOCIAL NETWORK DATA IN SOCIAL MEDIA ( CASE STUDY : LINKEDIN ))” 7, no. 2 (2020): 2214–19.

Riadi, Imam, Anton Yudhana, and Mushab Al Barra. “Forensik Mobile Pada Layanan Media Sosial LinkedIn.” JISKA (Jurnal Informatika Sunan Kalijaga) 6, no. 1 (2021): 9–20. https://doi.org/10.14421/jiska.2021.61-02.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *