Kesepian : Ketidakmampuan dalam membangun hubungan

Oleh: Alma Nabila

Kemajuan teknologi memberikan dampak besar bagi kehidupan kita. Salah satunya, kehadiran media sosial. Dahulu komunikasi sering terkendala oleh jarak dan waktu, namun kini berkat kemajuan teknologi orang dengan mudahnya berkomunikasi dengan siapapun dimanapun dan kapanpun. Disamping kemudahan dan keleluasan berkomunikasi, ternyata kemajuan teknologi komunikasi juga memberikan dampak negatif bagi interaksi sosial. misalnya seseorang mudah untuk mengabaikan sekitar karena terlalu fokus dengan gadget mereka sendiri. Perilaku ini akhirnya menjadi fenomena di masyarakat. Kemajuan teknologi komunikasi seakan seperti pisau bermata dua, disatu sisi dapat mendekatkan yang jauh namun disisi lain dapat menjauhkan yang dekat. Fenomena ini tentunya menggeser perilaku sosial masyarakat. Sekarang, lebih sulit mengadakan pertemuan dengan orang lain daripada memintanya untuk melakukan video call. Orang mampu duduk atau berada di kamar sendirian hanya bermain gadget sepanjang hari tanpa perlu berinteraksi dengan orang lain. Tidak heran, kini semakin banyak orang yang menderita kesepian.  

Banyak orang mempersepsikan bahwa kesepian erat kaitannya dengan jumlah teman yang dimiliki. Semakin sedikit teman yang dimiliki maka akan cenderung mengalami kesepian.  Sebetulnya banyaknya jumlah teman tidak bisa dijadikan tolak ukur munculnya rasa kesepian karena yang menentukan rasa kesepian bukanlah kuantitas hubungan kita dengan orang lain, tetapi kualitasnya. Kualitas yang dimaksud adalah seberapa mampu individu membangun hubungan yang berarti dengan orang lain. Bruno (2000) mendefinisikan kesepian sebagai suatu keadaan mental dan emosional yang utamanya dicirikan dengan adanya perasaan terasing dan kurangnya hubungan bermakna dengan orang lain. Bisa saja seorang individu memiliki banyak teman tetapi dirinya merasa terasing dan tidak memiliki hubungan bermakna sehingga individu tersebut merasa kesepian. Banyaknya jumlah teman tidak begitu berpengaruh terhadap munculnya rasa kesepian. Tergantung sejauh mana individu mampu memberi makna pada setiap hubungan yang dibangun. Ketika seorang individu mempunyai ekspektasi dalam berhubungan dengan orang lain namun  pada kenyataannya hubungan sosial yang dibangun tidak sesuai dengan harapannya maka individu akan merasa tidak puas. Kondisi ini bisa disebut dengan kesepian, Kesepian adalah suatu reaksi emosional dan kognitif individu akibat individu hanya memiliki sedikit hubungan sosial dan tidak puas akan hubungan sosialnya karena tidak sesuai dengan harapannya (Baron &Byrne, 2005) 

Weiss (dalam Perlman & Peplau, 1998; Tassin, 1999 dan Bednar, 2000) mengklasifikasi kesepian kedalam dua jenis yaitu; (1) Emotional Loneliness, kondisi dimana seseorang kehilangan figur lekatnya secara emosional seperti seorang anak kehilangan orangtuanya atau seorang dewasa kehilangan pasangannya. Emotional loneliness menitikberatkan kapada emosi negatif yang muncul dari ketidakpuasaan hubungan yang bersifat intim. (2) Social Loneliness, kondisi dimana seorang individu mengalami kekurangan hubungan sosial. inti dari Social loneliness adalah emosi negatif yang muncul dari ketidakpuasan pada kelompok atau komunitasnya yang tidak sesuai harapannya. 

Fenomena ksepian ini ternyata juga memiliki pengaruh besar bagi kesehatan fisik seseorang. Menurut penelitian Jaremka, et al. (2011) kesepian memiliki hubungan dengan kesakitan, depresi dan kelelahan yang lebih sering dibandingan dengan subjek yang terhubung secara sosial. Penelitian ini menjelaskan bahwa subjek yang merasa kesepian memiliki antibody CMV yang lebih tinggi sehinggga menyebabkan mereka mudah mengalami kesakitan, depresi, dan kelelahan. Penelitian lain juga menyebutkan hal yang senada bahwa orang yang merasa kesepian tidak hanya sebatas rentan mengalami gejala kelelahan, tetapi akan mudah terserang penyakit seperti penyakit pencernaan, jantung, obesitas, insomnia, bahkan dapat menyababkan kematian (Cohen, 2004; Cohen &Wills, 1985) Dengan demikian, kesepian bisa disebut sebagai penyakit di era modern. Kesepian tidak hanya sebatas mengancam kesehatan fisik seseorang, tetapi di level paling ekstrem kesepian dapat memunculkan keinginan untuk bunuh diri. 

Kesepian harus segera diatasi karena jika berlangsung lama akan memberikan dampak negatif bagi diri sendiri. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari kesepian diantaranya; cobalah untuk berteman dengan orang yang memiliki pikiran terbuka. Berada diantara orang dengan pikiran terbuka akan membuat kita merasa positif. Selanjutnya, jangan ragu untuk mengajak orang bertemu. Tidak perlu merasa gengsi. Anda bisa mengajak teman anda untuk sekadar minum kopi atau makan bersama. Lalu cara lain adalah coba sesekali menyapa orang tidak dikenal semisal ketika sedang mengantre atau di transportasi umum. Cara lainnya, sibukkan diri dengan hobi anda melalui komunitas yang anda sukai. Melalui partisipasi anda di sebuah kelompok atau komunitas yang anda sukai, anda akan bertemu banyak orang baru serta memperluas jaringan pertemanan anda. Jika mengalami masalah cobalah untuk bercerita kepada orang yang anda percaya atau kunjungi professional yang bisa membantu anda karena tidak ada manusia di dunia ini yang tidak membutuhkan bantuan. Sekuat-kuatnya manusia juga butuh untuk didengarkan.

Memang ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk sendirian tetapi tidak mungkin juga sepanjang waktu kita selalu sendirian. Sebagai makhluk sosial, membangun hubungan sosial merupakan indikator penting untuk bertahan hidup. Jika anda merasa diri anda tidak baik-baik saja, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan para ahli. 

Referensi

Bruno, 2000. American Psychologist: Depression and Gender. Journal of American Psychologist Association, 52(1), 25-31

Cohen, S. (2004). Social relationships and health. American Psychologist, 59, 676–684. http://dx.doi.org/10.1037/0003-066X.59.8.676

Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98, 310–357. http://dx.doi.org/10 .1037/0033-2909.98.2.310

Hidayati, D. S., & Muthia, E. N. (2016). Kesepian Dan Keinginan Melukai Diri Sendiri Remaja. Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(2), 185–198. https://doi.org/10.15575/psy.v2i2.459

Jaremka, L. M., Fagundes, C. P., Glaser, R., Bennett J. M., Malarkev, W. B., & Kiecolt Glaser, J. K. (2012). Loneliness predicts pain, depression, and fatigue: understanding the role of immune dysregulation. Psychoneuroendocrinology, 1-8. 

Perlman, D., & Peplau, L. A. (1998). Loneliness. In H. S. Friedman (Ed.) Encyclopedia of mental health, 2, (571-581). San Diego, CA: Academic Press. 

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *