oleh: Miftaqul Jannah

Pendahuluan

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu unsur utama perekonomian Indonesia. Dilansir dari situs resmi BAPPENAS keberadaan UMKM memberikan kontribusi serta peranan yang besar bagi ekonomi Indonesia, diantaranya adalah dapat membuka lapangan pekerjaan dan menambah devisa negara. Berdasarkan data Pada tahun 2018, UMKM di Indonesia mencapai angka 64,2 juta unit dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 97% dari 99% tenaga kerja yang ada, dan mampu memberikan sumbangsih devisa bagi Indonesia sebanyak Rp. 8.573,9 triliun dari keseluruhan PDB sebesar Rp. 14.838,3 triliun artinya 57,8 % PDB Indonesia berasal dari UMKM. 

Namun, badai pandemic yang menghantam Indonesia diawal tahun 2020, membuat semuanya berubah. Menurut data yang dirilis oleh Asosiasi UMKM Indonesia setengah dari jumlah UMKM mengalami kebangkrutan. Padahal data UMKM yang berdiri sampai tahun 2019 sudah mencapai 63 juta. Penyebabnya tentu saja menurunnya pendapatan yang mengakibatkan pegiat UMKM mengalami kesulitan dalam membayar biaya-biaya operasional seperti produksi, gaji pegawai serta pinjaman usaha. Tidak main-main dari 63,9 % UMKM yang terdampak 30% diantaranya mengalami penurunan omzet lebih dari 30% dan jumlah UMKM yang mengalami peningkatan omzet hanya sebesar 3,8%. 

Maka dari itu essai ini berangkat dari concern penulis terhadap menurunnya kondisi UMKM selama pandemi terjadi, karena jika sector UMKM semakin menurun tidak menutup kemungkinan jika akan banyak masalah sosial lain yang muncul tanpa dugaan apapun sebelumnya. 

ISI

Peluang bisnis yang ada dalam UMKM sangatlah luas, bisa dikatakan jika barang apapun bisa menjadi ladang keuntungan di bisnis UMKM. Hal ini juga didukung dengan adanya bonus demografi yang dimiliki oleh Indonesia sendiri, dimana berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2020 menyatakan jika 70,72 % dari 270,20 juta total masyarakat Indonesia adalah penduduk usia produktif. Hasil tersebut juga diikuti dengan adanya data jika penduduk Indonesia lebih banyak didominasi oleh generasi milenial dan Z. 

Adanya peningkatan jumlah generasi muda tentunya akan melahirkan tren-tren terbaru serta mendorong perkembangan di bidang teknologi, ekonomi, perdagangan serta keuangan. Dengan demikian akan banyak sekali inovasi-inovasi terbarukan yang akan tercipta dan akan mendongkrak sector UMKM yang ada di Indonesia, guna memaksimalkan perolehan pendapatan negara dari UMKM. 

Namun, diawal tahun 2020 menjadi nestapa bagi keberlangsungan UMKM di Indonesia. Pandemi yang datang secara tiba-tiba tanpa adanya tanda-tanda langsung menyerang seluruh sendi dan unsur kehidupan tidak terkecuali bidang UMKM. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melaporkan bahwa pandemic covid-19 yang terjadi dapat memberikan ancaman berupa krisis ekonomi besar, ditandai dengan berhentinya aktivitas produksi dibanyak negara, konsumsi masyarakat yang menurun, bursa saham jatuh dan berakhir pada ketidakpastian sampai hilangnya kepercayaan masyarakat. 

Jika kita mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah maka UMKM sendiri mempunya 3 definisi. Pada pasal 1 angka 1, didefiniskan jika usaha mikro adalah usaha produktif yang dimiliki oleh perseorangan dan/atau badan usaha perseorangan ini memenuhi kriteria usaha mikro yang telah diatur dalam undang-undang. Disisi itu dalam pasal 1 angka 2 mendefinisikan tentang usaha usaha kecil, dimana yang disebut dengan usaha kecil adalah usaha ekonomi yang berdiri sendiri, yang bisa juga dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau menjadi bagian baik secara langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah dan besar yang telah diatur dalam undang-undang, dan pada  pasal 1 ayat 3 juga dijelaskan tentang usaha menengah dimana yang dimaksud dengan usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang  bukan dimiliki oleh perusahaan atau cabang perusahaan. 

Bank Indonesia memperkirakan laju pertumbuhan dan inflasi pada tahun 2020 mencapai 4,2%-4,6 %. Naman dalam kenyataannya angka tersebut mengalami penurunan, tidak lain dan tidak bukan penyebab hal tersebut adalah terdampaknya sector strategis dalam perekonomian Indonesia yaitu UMKM. 

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini jelas belum cukup untuk mendongkrak pemberdayaan serta pengembangan UMKM. Maka dari itu diperlukan adanya pemanfaatan teknologi yang bisa mendukung keberadaan UMKM. Maka dari itu U-eMKM hadir sebagai bentuk respon terhadap sulitnya gerak UMKM selama pandemic terjadi. U-eMKM merupakan platform online yang berkerjasama langsung dengan Disperindangkop setiap daerah untuk membantu para pemilik UMKM agar dapat melakukan branding usahanya dengan baik dan mudah. Untuk mendaftar dalam U-eMKM para pelaku UMKM harus melampirkan berkas yang telah ditetapkan oleh disperindangkop. Setelah proses pendaftaran selesai maka UMKM yang dimiliki oleh pendaftar akan terdaftar dan dapat ditemukan dengan mudah melalui aplikasi U-eMKM setelah proses verifikasi selesai dilakukan.

Terkhusus usaha yang mengolah pangan, maka pemilik UMKM harus memiliki sertifikat izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) agar produk yang ditawarkan dapat terjamin kemanan dan kualitasnya. Selain itu adanya pemberlakuan pembatasan sosial menyebabkan banyak orang takut untuk bertatap muka untuk membeli produk UMKM secara langsung, maka dari itu U-eMKM juga berkolaborasi dengan platform transportasi online yang bisa melayani jasa layan antar. Dengan adanya kolaborasi ini diharapkan UMKM dapat terus berjalan tanpa harus melibatkan banyak mobilitas masyarakat.

Terakhir namun tidak penting adalah adanya regulasi yang jelas yang dibuat oleh  Disperindangkop dan pemerintah sebagai stakeholder terkait yang dapat mempermudah masyarakat untuk mengurus PIRT dan segala kelengkapan berkas untuk U-eMKM, karena terkadang inovasi yang diciptakan sudah baik namun tidak diiringi dengan implementasi yang mudah dan cenderung berbelit-belit.  

Penutup

Jika masalah kesehatan menjadi masalah yang sangat krusial di saat pandemi, maka ekonomi masyarakat juga harus mendapatkan perhatian. Sektor UMKM adalah salah satu bidang dengan dampak yang sangat parah bahkan berpotensi menciptakan krisis ekonomi. Pemulihan kesehatan harus berjalan seiring dengan pemulihan ekonomi, karena tidak semua masyarakat dalam kondisi sakit namun semua masyarakat kondisi ekonomi yang stabil atau setidaknya mencukupi menyerah. Maka dari itu dibutuhkan inovasi dan kolaborasi yang baik antar semua pihak agar proses pemulihan kesehatan maupun ekonomi dapat berjalan dengan baik dan maksimal agar tercipta kondisi kehidupan yang lebih baik lagi . 

DAFTAR PUSTAKA

Utami, A.S.B. 2021. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor UMKM di Indonesia. Jurnal Ilmu Ekonomi. Vol. 03, No. 1, Juni 2021

Permadi, I., Wardana, A.A. 2020. Hukum Sebagai Instrumen Bagi Pemerintah Daerah dalam Melindungi Keberlanjutan Koperasi dan UMKM Ditengah Ancaman Wabah Penyakit. Jurnal Komastie. e Vol 1, No.1 April 2020, pp. 44-56. 

Natasya, V., Hardiningsih, P. 2021. Kebijakan Pemerintah Sebagai Solusi Meningkatkan Pengembangan UMKM di Masa Pandemi. Journal of Economics and Business. Maret 2021, 141-148. ISSN 2597-8829 (Online), DOI 10.33087

Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah. 

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *