Pengaruh Local Genius Masyarakat  Jawa Terhadap Penerimaan Konsep Cantik Dalam Drama Korea

Oleh Aulia Izzah Azmi

Apa itu cantik? Banyak dari kita yang seringkali kebingungan menjelaskan kata ‘cantik’ hingga muncul pameo cantik itu relatif, jelek itu mutlak. Dewasa ini banyak standarisasi cantik yang bermunculan di masyarakat. Dalam artikel berjudul ‘The Truth of Beauty’ dijelaskan bahwa cantik adalah apapun yang menarik di mata pria; mulai dari fitur tubuh molek atau berlekuk, bibir yang terlihat penuh, dagu lancip, mata yang besar, dan lain sebagainya dimana kecantikan yang kasat mata seperti ini kerap membuat mata terpana, dan terpesona sehingga tanpa disadari setiap orang pada umumnya kemudian memiliki ekspektasi yang lebih tinggi pada peremouan yang  terlihat lebih cantik. 

Lantas apakah cantik selalu identik dengan  keindahan fitur wajah dan kemolekan tubuh saja? Dale Archer berkata bahwa secara tidak sadar seringkali dikaitkan dengan sifat-sifat lain seperti pintar, manis, atau mudah bergaul. Tapi apakah memang benar jika cantik wajahnya juga selalu cantik sifatnya? Dewasa ini banyak standarisasi cantik yang bermunculan di masyarakat. Standar perempuan cantik tidak lepas dari konstruksi media akan makna kecantikan. Standar yang  disebarkan melalui media massa terutama di Asia adalah perempuan yang memiliki kulit putih pucat, hidung mancung, dan tinggi. Budaya populer yang turun seperti drama Korea kerap menggambarkan bagaimana seharusnya seorang perempuan berpenampilan. Tanpa disadari, massa yang tersugesti pun mulsi mengikuti standar tersebut dalam memuaskan ekspektasi masyarakat.

Masyarakat Indonesia diberkati dengan kemampuan menerima, memadukan, maupun menyaring budaya asing yang disebut dengan local genius. Kemampuan bangsa Indonesia dalam berdialog dengan budaya asing memang patut dibanggakan. Khususnya kemampuan yang dimiliki pada masa terbentuknya jaringan intelektual yang terbangun seiring dengan masifnya budaya populer dari luar masuk. Local genius   tersebut tersebar di seluruh penjuru Indonesia dimana setiap daerah memiliki keunikan yang menjadi tradisi mereka. Local genius. masyarakat Jawa adalah sebuah pilar pemikiran orang Jawa yang didasarkan pada tradisi dan warisan nenek moyang. Dalam tradisi Jawa standar kecantikan perempuan Jawa didasarkan pada keindahan fitur wajah seperti kulit kuning langsat, tubuh langsing berlekuk, dan memiliki tangan yang lentik. Selain didasarkan dari keindahan fisik, tradisi Jawa menyaratkan perempuan untuk bertindak dengan anggun seperti berjakan dengan perlahan, mengenakan pakaian yang mengikuti lekuk tubuh, berbicara dengan halus, dan lain sebagainya. Apakah local genius masyarakat Jawa sudah bisa menyaring pengaruh budaya luar? Pertanyaan retoris tersebut perlu dijawab untuk mengetahui seberapa efektif local genius dalam menyaring budaya asing.

Standar Kecantikan Perempuan Korea

Masyarakat Korea Selatan percaya bahwa kesan pertama saat bertemu menjadi langkah utama diterimanya seorang individu dalam lingkungan masyarakat. Bagi masyarakat Korea, menjaga kesehatan dan kecantikan kulit adalah hal yang penting. Kebersihan kulit wajah adalah impresi pertama yang dilihat ketika bertemu seseorang. Wanita yang berkulit cerah dan berseri akan dinilai sebagai wanita yang cakap untuk mengurus segala hal dalam kehidupannya. Hal tersebut diinterpretasikan dalam sebagaimana baik ia merawat kulit wajahnya. 

Standar cantik bagi masyarakat Korea berbeda-beda setiap generasi. Pada masa Dinasti Joseon, wanita dinilai dari faktor-faktor lain seperti keunggulan dalam menguasai keahlian memasak, menari, dan menuangkan minuman. Kecantikan mereka juga dinilain dari aspek psikologis seperti kecerdasan,keanggunan, dan kesopanan sesuai dengan ajaran Konfusianisme yang dianut oleh dinasti pada saat itu. Kriteria yang telah disebutkan itu disebut inner beauty atau yang biasa disebut kecantikan dari dalam. (Ummu Khulsum: 2015)

Selain kecantikan dari dalam, dikenal juga outter beauty (kecantikan dari luar) yang menjadi daya tarik fisik seperti kesehatan, kemudaan, simetri wajah, struktur kulit, dan penampilan dalam berbusana. Sosok cantiknya wanita Joseon bisa dilihat dari bentuk fisik yang mereka miliki seperti rambut yang berayun dibawah telinga, lalu garis hidung yang lembut, wajah yang mungil, bibir semerah buah ceri. Selain itu, bokong yang terlihat berisi merupakan suatu keharusan. Mereka menganggap bokong yang berisi merupakan lambang kesuburan.

Standarisasi kecantikan wanita di era Joseon mengharuskan wanita cantik dari dalam dan luar. Sehingga tak jarang, tanpa kecerdasan dan keanggunan sebagai seorang wanita, wanita yang paling cantik secara penampilan sekalipun tidak akan mendapat label cantik. Seiring dengan perkembangan zaman, standarisasi cantik di Korea pun berkembang. Wanita di Korea mendefinisikan cantik adalah keindahan yang dimiliki seseorang dari penampilan semata. Penampilan seorang wanita begitu diperhatikan di Korea mulai dari atas samapi bawah. Tubuh wanita Korea harus berlekuk S atau jam pasir . Wanita yang langsing dianggap bisa menjaga pola makannya dan tidak rakus.

Di Korea, semakin putih kulit seorang wanita maka ia akan semakin dihargai. Bagi masyarakat Korea, kulit seorang wanita menginterpretasikan status sosialnya. Semakin putih, berarti semakin sering orang itu berada didalam ruangan. Wanita Korea terobsesi memiliki wajah yang tirus. Wajah tirus dianggap simbol keanggunan di Korea. Selain itu, mereka terobsesi memiliki kantung mata  dan double eye-lid karena hal tersebut dianggap penampilan yang imut. Kening lebar atau jenong dianggap sebagai simbol kecerdasan di Korea. (Scania: 2017). Dengan standar kecantikan yang telah disebutkan diatas, banyak wanita Korea yang rela mengeluarkan banyak uang untuk melakukan operasi plastic untuk memenuhi standar kecantikan yang ada dalam masyarakat.

Hal ini tak lepas dari peran media yang berperan sebagai subyek perekonstruksi standar kecantikan pada msayarakat. Persepsi cantik yang disuguhkan oleh media seperti produk kecantikan, dan drama Korea adalah seorang wanita berkulit putih pucat, berkaki jenjang, dan berbibir tipis. Konstruksi  media hari ini memperlihatkan bahwasanya media telah menjadi budak kapitalis. Segala hal yang ditampilkan media hanya bertujuan untuk meraup keuntungan semata. Padahal hal ini telah menyebabkan krisis kepercayaan diri yang terjadi pada diri perempuan. Akibat konstruksi media yang hadir dalam menginterpretasikan kecantikan, banyak perempuan yang tidak percaya diri dengan fisiknya sesempurna apapun itu.

Standar Kecantikan Perempuan Jawa

Standar kecantikan memang beragam dan selalu berubah tergantung konteks zaman. Melliana (2006), menuturkan, pada tahun 1950, masyarakat Eropa menjadikan Marlyn Monroe sebagai standar kecantikan dengan berat badan 67 kg dan tinggi 163 cm. Hal ini membuktikan perempuan sedikit gemuk dianggap cantik.

Berbeda lagi ketika sosok boneka barbie mulai membanjiri pasar mainan anak-anak. Menurut Moore (2009), orang yang cantik di mata umum adalah yang paling mirip dengan Barbie yaitu berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, dan bertubuh langsing. Standar kecantikan ini tentu mempengaruhi pandangan perempuan Indonesia pada kecantikan.

Perempuan Indonesia sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang. Standar kecantikan itu ternyata telah ada semenjak zaman Jawa kuno. Kehidupan Jawa kuno tergambar dalam kisah sastra Ramayana. Menurut Titib (1998), cantik pada masa itu digambarkan melalui tokoh Sita, istri Rama. Sita digambarkan sebagai perempuan muda yang sungguh cantik dan berperilaku baik. Ia bercahaya laksana rembulan. Rembulan digambarkan sebagai kecantikan kulit perempuan yang bercahaya.

Hal ini tercatat dalam KitaB Kakawin, yakni ketika Rama merana: “Kenanganku akan wajahmu yang manis hidup kembali karena pemandangan seekor kijang, sang gajah mengingatkanku akan keagunganmu, sang bulan akan wajahmu yang terang. Ah! aku dikuasai kecantikanmu”. Masyarakat jawa kuno sangat dipengaruhi oleh budaya India, cantik menurut orang India sebagaimana digambarkan didalam literatur kuno adalah termasuk cara berpakaiannya. Hal ini terlihat dari arca-arca yang menggambarkan dewi cantik di India.  Namun apakah cantik menurut orang jawa itu sama dengan orang India ? Untuk mengetahuinya, kita harus mengorek kitab-kitab sejenis Kamasutra. Didalam buku ini selain informasi yang bersifat seksual, kitab-kitab ini juga memuat keterangan tentang wanita yang baik untuk dijadikan istri, termasuk ciri fisik. Ada beberapa kitab-kitab karya pujangga kuno Indonesia yang memuat keterangan mengenai wanita. Diantaranya adalah Aji Asmaragama, Katurangganing Wanita, Niti Mani, dan Serat Centini.

Kitab Katurangganing Wanita memaparkan tipe perempuan baik yang disebut Estri Kencana dan Retna Kencana.Perempuan tipe Estri Kencana memiliki tubuh besar, kulit hitam, rambut lemas, dan sifat lemah lembut. Sementara tipe Retna Kencana memiliki kulit kuning, rambut sedikit kaku berwarna kemerahan dengan bagian ujung yang lebat dan halus, serta kaki kecil. Perempuan tipe ini memiliki sifat jujur dan setia. Tipe perempuan yang sebaliknya adalah Tipe Raksesa dan Durgasari. Perempuan tipe Raksesa ini memiliki kulit kemerahan, rambut lemas, dan dada besar. Perempuan tipe ini dapat membuat suaminya cepat  mati. Perempuan tipe Durgasari memiliki leher panjang dan roman muka yang kasar. Mendapat istri tipe Durgasari dianggap simbol penderitaan dan sang suami harus bersiap-siap menanggung nelangsa.

Tak hanya kitab tentang perempuan, Kitab Pararaton yang berisi kisah Ken Arok, juga menyebutkan tipe perempuan paling baik (adimukyaning istri) yang disebut Sri Nariswari. Perempuan ini memiliki tanda-tanda murub rahasyanipun (menyala rahasianya). Contoh perempuan tipe ini adalah Ken Dedes. Bukan rahasia lagi bahwa Ken Dedes adalah perenpuan pujaan. Tak hanya cantik, siapapun yang menikahinya akan menjadi raja dunia. Selain Ken Dedes, contoh perempuan cantik di zaman dahulu adalah Sri Tanjung. Sri Tanjung merupakan tokoh cerita yang dituduh berkhianat dan dibunuh oleh suaminya, Sidapaksa. Ra Nini yang menyelamatkan Sri Tanjung dari maut menggambarkannya sebagai wanita cantik dengan pantat yang bentuknya seperti limas yang baik. Betisnya bagaikan bunga pudak yang inda dan telapak kakinya seperti gamparan (alas kaki) gading.

Dari situ, jelas terlihat standar kecantikan zaman dahulu di Indonesia, khususnya di Jawa, berbeda dengan standar kecantikan masa sekarang. Standar tersebut dapat dikatakan sebagai local genius masyarakat Jawa dalam menilai perempuan. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa budaya populer seperti drama Korea turut berperan dalam membentuk standar cantik ditengah masyarakat. Pada titik ini, efektivitas local genius dipertanyakan. Masyarakat Indonesia dikenal dengan pribadinya yang mampu beradaptasi dengan berbagai budaya asing yang masuk. Pertanyaan besarnya, apakah dengan local genius yang dimiliki masyarakat Jawa ini akan mengeliminasi budaya asing yang masuk, atau cenderung mengakulturasikannya?

MEKANISME AKULTURASI BUDAYA KOREA DAN BUDAYA JAWA

Local Genius diposisikan sebagai koridor yang melimitasi budaya asing yang masuk ke tengah masyarakat sehingga masyarakat Jawa secara naluriah dapat mereduksi hal-hal negative yang dibawa oelh budaya asing tersebut dimana hal tersebut tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Kemampuan untuk menyaring budaya asing yang masuk ke tengah masyarakat ini sangat dibutuhkan ditengah era globalisasi yang saat ini sedang berlangsung. Dalam hal menilai fisik perempuan, budaya Jawa dan budaya Korea yang dipopulerkan melalui drama Korea ini tidak jauh berbeda. Nilai yang dibawa tidak jauh dari perempuan bertubuh langsing dan berkulit cerah yang mendapat label ‘cantik’. Oleh karena itu, standarisasi yang dibawa dari budaya Korea tidak sulit untuk masuk ke tengah masyarakat. Pada akhirnya, budaya Korea dan budaya Jawa ini berakulturasi dan membentuk paradigma cantik yang baru ditengah masyarakat Jawa. Produk akulturasi budaya Korea dan budaya Jawa inilah yang nantinya menjadi acuan bagi para perempuan untuk berpenampilan dalam masyarakat.

Namun terlepas dari apapun standar fisik perempuan ideal yang berlaku dalam masyarakat, perempuan tidak seharusnya terpaku di satu titik untuk hanya mempercantik penampilannya. Dalam kajian aksiologis, estetika bukan hanya soal rupa tapi juga soal rasa. Dalam memaknai keindahan, seseorang harus dapat melihat keindahan dalam makna sesungguhnya. Lebih dari kemolekan fisik, kemampuan memberi rasa nyaman adalah keindahan hakiki yang dapat diusahakan oleh perempuan manapun. Kadangkala standarisasi yang muncul di masyarakat dapat menyebabkan degradasi moral pada kaum perempuan. Kebanyakan perempuan focus mempercantik tubuhnya, namun sedikit yang ingin memperbaiki tindak-tanduknya. Berkeinginan menjadi cantik adalah hal wajar, namun menjadikan hal tersebut sebagai tujuan hidup adalah kesalahan. Karena menjalani hubungan sosial dengan masyarakat tidak cukup dengan kemolekan fisik, namun juga kemampuan dalam mengayomi orang lain.

DAFTAR RUJUKAN

  • BUKU DAN JURNAL

Kattsoff, L. (2004). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Khulsum, U. (2015). Perspektif Cantik Perempuan Korea dalam Fim Minyeoneun Geurowo. Jakarta: Universitas Indonesia.

Scania, H. (2017). Keutamaan Kecantikan Bagi Wanita Joseon. Jakarta: Universitas Indonesia.

Setiadi, Elly, Abdul Hakam, Kama, & Effendi Ridwan. 2012. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri 

Haviland, W. 2015. Antropology 4th Edition. United Kingdom: Cengage Learning

  • INTERNET

Kartz, Kelly. 2016. Konsep Cantik Wanita Korea. https://dreamgirlar96.wordpress.com/2013/05/28/definisi-cantik-dan-penampilan-siswa-sma-di-korea-selatan-2/ diakses pada 11 Oktober 2018

Pranditia, Yogi.  2018. Cewek di Korea baru bisa dibilang cantik apabila memenuhi 6 standar ini. https://keepo.me/pranditia/cewek-di-korea-baru-bisa-dibilang-cantik-kalau-udah-memenuhi-6-kriteria-ini. Diakses pada 11 Oktober 2018

Ginanti, Ria Aisha. 2018. Sempitnya  persepsi cantik di Korea dan pengaruhnya bagi kita. http://cewekbanget.grid.id/read/06863275/sempitnya-persepsi-cantik-di-korea-pengaruhnya-bagi-kita?page=all. Diakses pada 11 Oktober 2018

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *