Diskriminasi Gender dalam Program Keluarga Berencana

Oleh Dania Sabrina

Keluarga Berencana (KB) merupakan sebuah program yang dicanangkan pemerintah guna meningkatkan kesejahteraan setiap keluarga melalui pembatasan kelahiran sehingga jumlah penduduk Indonesia dapat seimbang. Program KB makin popular pada masa Onde Baru di mana KB menjadi program yang mulai digalakkan oleh pemerintah sebagai upaya menekan ledakan penduduk. Meskipun pada sekitaran tahun 2010 pamor keluarga KB mulai menurun oleh banyaknya prinsip hidup dalam masyarakat tradisional “banyak anak banyak rejeki”, namun akhir-akhir ini program tersebut mulai diberlakukan kembali. Bahkan pemerintahan Joko Widodo telah membentuk program dengan nama Kampung KB sebagai wujud dari pelaksanaan agenda prioritas pembangunan nawacita ke 3, 5, 8. 

Pelaksanaan kampung KB dinilai sebagai program emansipatif dari pemerintah dalam mengatasi masalah kependudukan terutama di wilayah-wilayah pinggiran, atau wilayah yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Kedepannya, Kampung KB akan menjadi ciri khas dari program kependudukan pemerintah, yaitu KB dan Pembangunan Keluarga (KKBKP). Adapun tujuan dari Kampung KB adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung atau desa melalui program KKBKP serta pembangunan sektor lain dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas dan harmonis. Prinsip dasar dari program KKBKP yaitu mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera serta mampu melaksanakan 8 fungsi keluarga. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Pemerintah No 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga. Dalam PP disebutkan 8 fungsi keluarga meliputi (1) fungsi keagamaan, (2) fungsi social budaya, (3) fungsi cinta kasih, (4) fungsi perlindungan, (5) fungsi reproduksi, (6) fungsi sosialisasi dan pendidikan, (7) fungsi ekonomi dan (8) fungsi pembinaan lingkungan. Penerapan fungsi keluarga ini membantu keluarga lebih bahagia dan sejahtera, terbebas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Indikator keberhasilan dari program KKBKP yaitu dilihat dari beberapa aspek pendukung yaitu aspek pengendalian jumlah penduduk serta peningkatan kualitas penduduk yang diukur dengan peningkatan ketahanan dan kesejahteraan penduduk. 

Faktanya, pelaksanaan program tidak selalu berjalan lancar dan dapat diterima oleh masyarakat. Tidak dapat dipungkri, setiap peluncuran program pemerintah pasti akan menimbulkan berbagai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Dalam perspektif gender, program ini dinilai sebagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Adanya pernyataan ini merupakan akibat yang dirasakan oleh perempuan sebagai objek program. Bahwa program KB diperuntukkan oleh keluarga dengan dalih untuk mensejahterakan dan meningkatkan kualitas keluarga kecil, justru sebenarnya program ini hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan. Untuk menjalankan program, perempuan “dipaksa” untuk menggunakan KB. Berbagai produk KB serta alat kontrasepsi lebih banyak untuk perempuan seperti Pil KB, KB suntik, implant, dan IUD/Spiral dan lainnya. 

Dapat dikatakan bahwa program KB merupakan produk dari budaya patriarki. Di mana tubuh perempuan dijadikan objek dalam pelaksanaan program. Dalam konstruksi sosial, tubuh perempuan menjadi pusat pengawasan dalam keluarga. Adanya pengawasan tubuh perempuan menjadi tanggung jawab keluarga, termasuk tindakan perawatan anak, latihan fisik, penyiapan makanan, vaksinasi, dan menjaga kebersihan. (Lupton dalam Abdullah, 1994). Hal tersebut memberi penglihatan baru bahwa tubuh perempuan tidaklah merdeka, melainkan masih dalam pengawasan masyarakat. Oleh karenanya, apabila perempuan masih menegakkan prinsip tubuhnya adalah otoritasnya maka perempuan tersebut harus siap dengan berbagai sanksi sosial, mulai dari pandangan miring bakan sampai tahap diskriminasi. Sebab hingga kini masyarakat umumnya melihat tubuh bersifat sosial, tidak bisa lepas dari aneka norma dan regulasi yang ada.

Selain dirugikan dalam hal kebebasan, dengan program KB yang menjadikan perempuan sebagai objek juga merugikan perempuan dalam hal kesehatan. Penggunaan KB suntik membuat lapisan dari lendir rahim menjadi tipis sehingga haid sedikit, bercak atau tidak haid sama sekali, perdarahan tidak menentu, bahkan 70 persen pengguna KB suntik bisa tidak haid. Selain itu juga terjadi peningkatan berat badan, rambut rontok, tulang menjadi keropos, kelainan metabolisme lemak, ketidakteraturan menstruasi termasuk menometroragi (umumnya beberapa bulan pertama) dan amenorea (1 tahun pertama). Selain KB suntik, penggunaan pil KB juga memberikan dampak buruk terhadap kesehatan perempuan, di mana efek sampig dari penggunaannya adalah akan menimbulkan rasa mual, sakit kepada dan rasa tidak nyaman pada payudara, pendarahan secara tiba-tiba diluar haid, peningkatan berat badan, gairah seks yang menurun, serta perubahan suasana hati yang terjadi secara tiba-tiba. (TribunJabar.co.id, 2015).

Beberapa penjelasan tersebut membuktikan bahwa pelaksanaan program KB merugikan kaum perempuan. Di mana program ini hanya menyasar pada perempuan yang dituntut dan dipaksa untuk melakukan berbagai rangkaian ritual dalam menjalankan program KB. Selain itu, apabila program KB gagal, maka perempuan adalah pihak utama yang akan merasakan dampak negatifnya yang dapat dilihat dari segi kesehatan. Sehingga perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap progam KB agar tidak hanya merugikan kaum perempuan. 

Sumber:

Abdullah, Irwan. 1995. Tubuh, Kesehatan, dan Reproduksi Hubungan Gender. Jurnal Populasi 6 (2).

Harian Sejarah. 2019. Program Keluarga Berencana (KB) pada Masa Orde Baru. (online) http://www.hariansejarah.id/2017/05/program-keluarga-berencana-kb-pada-masa-orde- baru.html. Diakses pada 25 Juli 2019. 

Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia. Kampung KB: Inovasi Strategis Memberdayakan Masyarakat. (online). https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/9841/kampung-kb-inovasi-strategis- memberdayakan-masyarakat/0/artikel_gpr. Diakses pada 25 Juli 2019.

Tribun Jabar. 2015. Dampak Buruk Jika Istri Memakai KB. (online) http://jabar.tribunnews.com/2015/08/17/inilah-dampak-buruk-jika-istri-memakai-kb. Diakses pada 25 Juli 2019. 

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *